Rabu, 06 November 2013

BAB IV

PEMUDA DAN SOSIALISASI

A. INTERNALISASI, BELAJAR DAN SPESIALISASI

     Ketiga kata atau istilah tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Proses berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi sosial.
•  Istilah internasilasasi lebih ditekankan pada norma-norma individu yang                                         menginternasilasikan norma-norma tersebut.
•  Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku, yang semula tidak dimiliki sekarang       telah dimiliki oleh seorang individu.
•  Istilah spesialisasi ditekankan pada kekhususan yagn telah dimiliki oleh seorang individu,           kekhususan timbul melalui proses yang agak panjang dan lama.
Pengertian Internalisasi

a. Secara epistimologi Internalisasi berasal dari kata intern atau kata internal yang berarti bagian dalam atau di dalam. Sedangkan internalisasi berarti penghayatan (Peter and Yeni, 1991: 576).

b. Internalisasi adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 439).

c. Internalisasi adalah pengaturan kedalam fikiran atau kepribadian, perbuatan nilai-nilai, patokan-patokan ide atau praktek-praktek dari orang-orang lain menjadi bagian dari diri sendiri (Kartono, 2000: 236).

Pengertian Belajar
•             Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku, pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap yang tidak disebabkan oleh pembawaan, kematangan, dan keadaan–keadaan sesaat seseorang, namun terjadi sebagai hasil latihan dalam interaksi dengan lingkungan.

•             Belajar adalah suatu aktivitas yang di dalamnya terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal
•             Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
•             Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.[1] Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Pengertian Spesialisasi
•             Pengahlian dl suatu cabang ilmu, pekerjaan, kesenian, dsb
•             Proses mendesain subgrup di dalam suatu entity





PROSES SOSIALISASI


Menurut George Herbert Mead
George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut.
  • Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
  • Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
  • Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temanya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
  • Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Menurut Charles H. Cooley
Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1.     Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2.     Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
3.     Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.
Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap “nakal”, maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai “anak nakal” sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.

PERANAN SOSIAL MAHASISWA DAN PEMUDA DI DALAM MASYARAKAT

Mahasiswa adalah kelompok pelajar yang bisa dikatakan sebagai golongan terdidik, karena mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi, di saat sebagian yang lain dalam usia yang sama masih bergelut dengan kemiskinan dan keterbatasan biaya dalam mengakses pendidikan, terutama pendidikan tinggi.
Predikat tersebut tentulah dapat disinonimkan bahwa mahasiswa merupakan kaum intelektual, yang mempunyai basis keilmuan yang kuat sesuai dengan jurusan yang diambil masing-masing mahasiswa, yang berarti kemampuan akademik mahasiswa dapat diandalkan sebagai salah satu asset negara ini. Tetapi, mahasiswa juga merupakan sebuah entitas social yang selalu berinteraksi dengan masyarakat dari segala jenis lapisan, sehingga dalam hal ini mahasiswa pun dituntut untuk memainkan peran aktif dalam kehidupan social kemasyarakatan.
Peranan pemuda dalam masyarakat
Masyarakat membutuhkan peran serta pemuda untuk kemajuan bersama.
Pemuda adalah tulang punggung masyarakat. Generasi tua memilki keterbatasan untuk memajukan bangsa. Generasi muda harus mengambil peranan yang menentukan dalam hal ini. Dengan semangat menyala-nyala dan tekad yang membaja serta visi dan kemauan untuk menerima perubahan yang dinamis pemuda menjadi motor bagi pembangunan masyarakat. Sejarah membuktikan, bahwa perubahan hampir selalu dimotori oleh kalangan muda. Sumpah Pemuda, Proklamasi, Pemberantasan PKI, lahirnya orde baru, bahkan peristiwa turunnya diktator Soeharto dari singgasana kepresidenan seluruhnya dimotori oleh kaum muda. kaum muda pula yang selalu memberikan umpan balik yang kritis terhadap pongahnya kekuasaan.
B. POLA DASAR PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN GENERASI MUDA
GENERASI MUDA

Pemuda bangsa, identik dengan generasi penerus. Para pemuda bangsa sekarang ini dituntut mempunyai kemampuan lebih dan pola pikir yang semakin berkembang. Hal tersebut dimaksudkan agar para pemuda dapat bersaing ditengah-tengah kompetisi dunia yang semakin maju dengan pesat. Keadaan ini pula yang mengharuskan faktor-faktor pendukung seperti lembaga pendidikan dan pengawasan dari pihak yang lain untuk lebih kritis terhadap perkembangan generasi muda saat ini.

Pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Keputusan Menteri Pendidkan dan Kebudayaan nomor : 0323/U/1978 tanggal 28 oktober 1978. Yang mempunyai tujuan agar pihak-pihak yang berkepentingan benar-benar memakai pedoman untuk dapat mencapai tujuan yang tepat.

Pola pembinaan dan pengembangan generasi muda memiliki dasar seperti :
1. Pancasila
2. Undang-undang dasar 1945
3. Garis-garis Besar Haluan Negara
4. Sumpah Pemuda dan Proklamasi
5. Tata nilai ditengah masyarakat

Dalam hal ini pembinaan dan pengembangan generasi muda menyangkut 2 pengertian pokok yaitu:
a). generasi muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan yaitu mereka yang memiliki kemampuan dan dasar untuk dapat mandiri.
b). generasi muda sebagai obyek pembinaan dan pengembangan yaitu mereka yang memerlukan pengembangan untuk mengasah kemampuan dan belum bisa mandiri.

Dan beberapa peranan orang terdekat pun sangat memiliki pengaruh untuk mengawasi setiap perbuatan dan tindakan yang berarah pada tindakan kriminal dan pergaulan yang negatif. 
    Tujuan sosialisasi ada 4 yaitu:
    1. Memberikan ketrampilan terhadap seseorang agar mampu mengimbangi hidup bermasyarakat.
    2. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif.
    3. Membantu mengendalikan fungsi – fungsi organic yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
    4. Membiasakan diri dengan berprilaku sesuai dengan nilai – nilai dan kepercayaan pokok yang ada dimasyarakat.
    C. PENGERTIAN PERGURUAN TINGGI DAN PENDIDIKAN


       Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian (UU 2 tahun 1989, pasal 16, ayat (1)). 

    Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pada pendidikan menegah di jalur pendidikan sekolah (PP 30 Tahun 1990, pasal 1 Ayat 1)

    Tujuan pendidikan tinggi adalah :
    1. Mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.

    2.Mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional ( UU 2 tahun 1989, Pasal 16, Ayat (1) ; PP 30 Tahun 1990, Pasal 2, Ayat (1) ).



              Pengertian dan Definisi Pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

              Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa.




    Elisa dkk (2001) menyatakan bahwa pendidikan luas dikenal di masyarakat adalah pendidikan dalam arti formal, yaitu pendidikan yang diterima oleh peserta didik melalui pendidik dan biasanya dilakukan pada suatu lembaga atau institusi.

    Dengan kata lain, esensi pendidikan (usaha sadar) mengandung makna suatu proses transaksional yang intensional, terjadi dilingkungan (sosial budaya) berstruktur yang disebut sekolah atau sejenisnya.
    Pendidikan sebagai salah satu bagian penting dari proses pembangunan nasional merupakan salah satu sumber penentu dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.


    Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli, Definisi

    Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16) 

    Definisi pendidikan - Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.  (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002 : 263) 

    Artikel ini berjudul (Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli Definisi, Tujuan, Unsur, Jalur, Faktor)

    Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1) 

    John Stuart Mill (filosof Inggris, 1806-1873 M) menjabarkan bahwa Pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.

    Pendidikan, menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

    John Dewey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

    Hal senada juga dikemukakan oleh Edgar Dalle bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

    Thompson mengungkapkan bahwa Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya.

    Ditegaskan oleh M.J. Longeveled bahwa Pendidikan merupakan usaha , pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

    Prof. Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.

    Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H- 143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah) mengatakan bahwa : “Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.”

    Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) menjelaskan bahwa Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesemurnaan.


    D. PENDAPAT MAHASISWA PEMUDA DAN SOSIALISASI

             Pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan Negara bangsa dan agama. Selain itu pemuda/mahasiswa mempunyai peran yang besar sebagai pendekar intelektual dan sebagai pendekar sosial yaitu bahwa para pemuda selain mempunyai ide-ide atau gagasan yang perlu dikembangkan selain itu juga berperan sebagai perubah Negara dan bangsa ini. Oleh siapa lagi kalau bukan oleh generasi selanjutnya maka dari itu para pemuda harus mempunyai ilmu yang tinggi dengan cara sekolah atau dengan yang lainnya, dengan begitu bangsa ini akan menjadi negara maju, diluar sana banyak yang mengatakan bahwa sebenarnya indonesia tidak membutuhkan dunia tetapi dunia yang butuh indonesia. namun karena memang masyarakat indonesia banyak yang belum siap dengan perubuhan yang begitu pesat, alhasil kesenjangan sosial yang terjadi di sekelililng kita, sebaiknya bagi para pemuda di seluruh indonesia agar siap menghadapi tantangan yang jauh lebih besar kedepanya, terutama soal moral/akhlak karena dizaman yang serba modern sekarang ini banyak anak muda yang sudah melupakan tatakrama/norma-norma dalam kehidupan sehari-hari.sebaiknya sekarang ini kita saling mengingatkan satu sama lain agar pemuda indonesia mempunyai benteng pendidikan yang kuat, kenapa saya menyebutkan benteng pendidikan ? karena hanya ilmu lah yang dapat menolong kita di dunia ataupun di akhirat nanti. sekian dari saya dan terimakasih

    Sumber :
    http://ilmusosialdasar-lintang.blogspot.com

    Zaldy Faturrahman 
    19113664
    1KA07



    Selasa, 05 November 2013

    BAB III

    HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT.·

    A.  Makna Individu

    Manusia adalah makhluk individu. Makhluk individu berarti makhluk yang tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat dipisah-pisahkankan antara jiwa dan raganya.

    Pendapat lain bahwa manusia sebagai makhluk individu, tidak hanya dalam arti makhluk keseluruhan jiwa raga, melainkan juga dalam arti bahwa tiap-tiap orang itu merupakan pribadi (individu) yang khas menurut corak kepribadiannya, termasuk kecakapan-kecakapan serta kelemahan-kelemahannya.

    Untuk menjadi individu yang “mandiri” harus melalui proses pemantapan dalam pergaulan di lingkungan keluarga pada tahap pertama. Terbentuk dalam lingkungan keluarga secara bertahap dan akan bertahap dan akan mengendap melalui sentuhan-sentuhan interaksi : etika, estetika, dan moral agama.

    Menurut Sigmund Freud, superego pribadi manusia sudah mulai terbentuk pada saat manusia berumur 5-6 tahun (W.A. Gerungan, 1980 : 29).

    B.  Makna Keluarga

    Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat.

    5 macam sifat terpenting :

    1.  Hubungan suami-isteri.

    Berlangsung seumur hidup dan mungkin dalam waktu yang singkat saja.

    2.  Bentuk perkawinan di mana suami-isteri itu diadakan dan dipelihara.

    3.  Susunan nama-nama dan istilah-istilah termasuk cara menghitung keturunan.

    Misalnya :

    Di batak dihitung melalui garis laki-laki : disebut Patrilineal.

    Di Minangkabau melalui garis wanita : disebut Matrilineal. Di mana kekuasaan terletak pada wanita.

    Sistem ini disebut Avonculat.

    4.  Milik atau harga benda keluarga.

    5.  Pada umumnya keluarga itu tempat bersama/rumah bersama.

    C.  Pengertian Individu, Keluarga dan Masyarakat

    Masyarakat non Industri
    Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group)

    A. Kelompok primer 
              Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Di karenakan para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, sehingga mereka mengenal lebih dekat, lebih akrab. dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawabpara anggota dan berlangsung atas dasar rasasimpati dan secara sukarela.

    Contoh-contoh kelompok primer, antara lain :keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar,kelompok agama, dan lain sebagainya.

    B. Kelompok sekunder
              Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak Iangsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karen yaitu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antaranggota kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif.
    Para anggota menerima pembagian kerja/pembagian tugas atas dasar kemampuan; keahlian tertentu, di samping dituntut dedikasi. Hal-hal semacam itu diperlukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati. Contoh-contoh kelompok sekunder, misalnya : partai politik, perhimpunan serikat kerja/serikat buruh, organisasi profesi dan sebagainya. Berlatar belakang dari pengertian resmi dan tak resmi, maka tumbuh dan berkembang kelompok formal (formal group) atau lebih akrab dengan sebutan kelompok resmi, dan kelompok tidak resmi (informal group). Inti perbedaan yang terjadi adalah : Kelompok tidak resmi (informal group) tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah tangga (ART) seperti yang lazim berlaku pada kelompok resmi.
    Namun demikian, kelompok tidak resmi juga mempunyai pembagian kerja, peranan-peranan serta hirarki tertentu, norma-norma tertentu sebagai pedoman tingkah laku para anggota beserta konvensi-konvensinya. Tetapi hal ini tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis seperti pada kelompok resmi (W.A. Gerungan, 1980 : 91).
    Contoh : Semua kelompok sosial, perkumpulan-perkumpulan, atau organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memiliki anggota kelompok tidak resmi.

    Masyarakat Industri

    Durkheim mempergunakan variasi pembangian kerja sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya. Akan tetapi lebih cenderung mempergunakan dua taraf klasifikasi, yaitu yang sederhana dan yang kompleks. Masyarakat-masyarakat yang berada di tengah kedua eksterm tadi diabaikannya (Soerjono Soekanto, 1982 : 190).
    Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat semakintinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah men2enal pengkhususan.Otonomi sejenis, juga menjadi ciri daribagian/ kelompok-kelompok masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu.

    Contoh-contoh : tukang roti, tukang sepatu,tukang bubut, tukang las, ahli mesin, ahli listrik dan ahli dinamo, mereka dapat bekerja secara mandiri. Dengan timbulnya spesialisasi fungsional, makin berkurang pula ide-ide kolektif untuk diekspresikan dan dikerjakan bersama. Dengan demikian semakin kompleks pembagian kerja, semakin banyak timbul kepribadian individu. Sudah barang tentu masyarakat sebagai keseluruhan memerlukan derajat integrasi yang serasi. Akan tetapi hanya akan sampai pada batas tertentu, sesuai dengan bertambahnya individualisme.

    D. Hubungan antara Individu, keluarga dan masyarakat

              Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Allah S.W.T di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun. 

    Individu dengan keluarga, hubungan ini sangatlah mutlak. Dikarenakan individu terlahir dari keluarga, tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang suatu saat individu ini akan membentuk keluarganya sendiri. Peran individu dalam keluarga merupakan resultan dari relasi biologis, psikologis dan sosial. Relasi khusus ini mencangkup kebudayaan lingkungan keluarga yang dinyatakan melalui bahasa (adat-istiadat, kebiasaan, norma-norma, dan nilai-nilai agama). 

    Individu dengan masyarakat, hubungan ini adalah tahap selanjutnya dari seseorang yang telah mempelajari cara berinteraksi yang telah diajarkan dalam keluarga. Dalam hal ini, individu memasuki suatu ruang lingkup yang sangat luas karena terdapat individu yang berbeda dan berasal dari berbagai daerah/komunitas. Masyarakat itu bersifat makro. Sifat makro diperoleh dari kenyataan, bahwa masyarakat pada hakiaktnya terdiri dari sekian banyak komunias yang berbeda, sekaligus mencakup berbagai macam keluarga, lembaga dan individu – individu.

    Menurut saya, terkadang adapula hubungan yang terjadi antara Individu dengan Keluarga atau Masyarakat seperti contoh dibawah ini :

    >Bersifat Positif
    Individu dengan Keluarga
    - Saling menutupi kekurangan antar anggota keluarga
    - Saling membantu untuk mempertahankan keharmonisan keluarga
    - Saling melindungi dan memberikan kasih sayang ke keluarga
       Individu dengan Masyarakat
    - Saling gotong royong
    - Ikut serta dalam membantu orang yang terkena musibah
    - Ikut serta dalam menjaga lingkungan

    >Bersifat Negatif
    Individu dengan Keluarga
    - Memaksakan kehendak/keinginan sendiri
    - Melakukan kekerasan dalam keluarga
    - Tidak peduli bila ada anggota keluarga minta bantuan
       Individu dengan Masyarakat
    - Melakukan tindakan kriminal
    - Perkelahian antar kelompok
    - Tidak mempedulikan kelompok lain dan hanya mementingkan kelompok sendiri untuk                keuntungan pribadi

    E. Pengertian urbanisasi dan proses terjadinya urbanisasi
                  Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

    Berbeda dengan perspektif ilmu kependudukan, definisi Urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Perpindahan manusia dari desa ke kota hanya salah satu penyebab urbanisasi. perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni: Migrasi Penduduk dan Mobilitas Penduduk. Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota. Sedangkan Mobilitas Penduduk berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara saja atau tidak menetap.

    Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.

    Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan.

     A. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi

    • Kehidupan kota yang lebih modern
    • Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
    • Banyak lapangan pekerjaan di kota
    • Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas


          B. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi


    • Lahan pertanian semakin sempit
    • Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
    • Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
    • Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
    • Diusir dari desa asal
    • Memiliki impian kuat menjadi orang kaya

          C. Keuntungan Urbanisasi

    • Memoderenisasikan warga desa
    • Menambah pengetahuan warga desa
    • Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
    • Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa

          D. Akibat urbanisasi


    • Terbentuknya suburb tempat-tempat pemukiman baru dipinggiran kota
    • Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap)
    • Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
    • Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan sosial dan kriminal


    F. Pendapat saya tentang BAB III.

              Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa manusia disatu sisi adalah makhluk individu dan disisi lain sebagai makhluk sosial, karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan saling bergantungan satu dengan yang lainny. Kemudian keluarga, keluarga adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu tempat yaitu rumah, di dalam rumah itu sendiri biasanya ada kepala rumah tangga yang di sebut bapak dan mempunyai seorang istri yang disebut ibu, kemudian memiliki anak dan berkumpulah sebuah keluarga di dalam rumah atau di suatu tempat. Berikutnya Masyarakat, masyarakat adalah sekelompok warga atau makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Ada juga masyarakat yang non industri artinya segala kebutuhan hidupnya di dapatkan dari alam, seperti para petani dll mereka adalah sekelompok orang yang berjasa di kalangan masyarakat indonesia, namun ironisnya keluarga para petani tersebut jauh dari harapan hidup yang serba layak, hidup yang serba pas-pasan terkadang membuat mereka dipandang sebelah mata. lalu kita bahas tentang masyarakat Industri disini bisa kita lihat bahwasanya masyarakat industri dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak bahkan sampai berlebihan harta disini terdapat faktor ilmu yang melebihi masyarakat yang non industri, dan masyarakat industri dibagi menjadi 2 kelompok yaitu (kelompok primer dan kelompok sekunder) diharapkan indonesia sendiri dapat menyeimbangkan antara si kaya dan si miskin karena berdasarkan pengelihatan saya masyarakat indonesia nyatanya lebih banyak masyarakat yang berada pada garis kemiskinan, dan orang kaya di indonesia mereka memegang prinsip yang kaya tambah kaya dan yang miskin tambah miskin, ini adalaha persepsi yang salah di antara masyarakat kita, alangkah baiknya yang kaya bisa berjiwa besar dan yang miskin bisa tahu diri dengan kekuranganya dan ia mau berusaha keras untuk merubah nasibnya. langsung saja ke masyarakat urabanisasi, masyarakat indonesia berlomba lomba dalam berurbanisasi karena apa ? karena pemerintah di indonesia belom mampu menciptakan suasana yang membuat masyarakat kampung betah di kampungnya karena orang-orang jauh umumnya datang ke JAKARTA untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, pemerintah di indonesia belum mampu memberikan pekerjaan yang cukup dan layak bagi masyarakat yang tinggal di kampung-kampung atau di plosok sekali pun, kemudian antara tenaga kerja dan perusahaan lebih banyak tenaga kerja sedangkan perusahaan sangat sedikit, lalu sumber daya manusia yang profesional dalam bekerja juga sangat kurang dari yang kita inginkan sedangkan harga barang terus naik dan naik setiap tahunya membuat beban sendiri bagi masyarakat indonesia dengan jumlah KORUPTOR terbanyak di dunia maka terjadilah kesenjangan sosial yang begitu terlihat diantara kita. sekian dari saya dan terimakasih atas perhatiannya

    Sumber :
    http://epistemologyideas.wordpress.com/2012/10/22/hubungan_antara_individu-keluarga-masyarakat/
    http://arbip.blogspot.com/2009/12/pengenalan-tentang-masyarakat-industri.html
    http://wafiq-agito.blogspot.com/2012/11/fungsi-keluarda-hubungan-antara.html
    http://id.wikipedia.org/wiki/Urbanisasi

    ZALDY FATURRAHMAN
    19113664
    1KA07

    Selasa, 15 Oktober 2013

    BAB II PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

    A. Pertumbuhan Penduduk
    Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk khususnya. Misal: dengan bertambahnya penduduk berarti pula harus bertambah pula persediaan bahan makanan, perumahan, kesempatan kerja, dan sebagainya.

    Adapun perkembangan jumlah penduduk dunia sejak tahun 1830 – 2006:
    Kalau dilihat dari table di atas pertumbuhan penduduk makin cepat. Berikut adalah tabel bertambah cepatnya penggandaan penduduk dunia:




    Waktu penggandaan penduduk dunia selanjutnya diperkirakan 35 tahun. Pertambahan penduduk di suatu daerah atau Negara pada umumnya dipengaruhi oleh faktor – faktor sebagai berikut:
        1. Kematian
        2. Kelahiran
        3. Migrasi

    Di dalam pengukuran demografi ketiga faktor tersebut diukur dengan tingkat/rate. Tingkat/rate adalah kejadian dari peristiwa yang menyatukan dalam bentuk perbandingan. Biasanya perbandingan ini dinyatakan dalam tiap 1000 penduduk.

    1. Kematian

    Ada beberapa tingkat kematian. Tetapi disini akan dijelaskan hanya dua tingkat kematian saja:

    a. Tingkat Kematian Kasar (Crude Death Rate/CDR)

    Tingkat kematian kasar adalah banyaknya orang yang meninggal pada suatu tahun per jumlah penduduk pertengahan tahun tersebut. Secara dinyatakan tiap 1.000 orang. Secara matematis ditulis:


    D     = Jumlah kematian
    PM  
    = Jumlah penduduk per pertengahan tahun
    K     = Konstanta (1.000)

    Jadi jumlah penduduk yang mewakili suatu tahun tertentu adalah jumlah penduduk pada bulan Juni. Penduduk pertengahan tahun ini dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:


    Pm = Jumlah penduduk pertengahan tahun. 
    P1  = Jumlah penduduk awal tahun. 
    P2  = Jumlah penduduk pada akhir tahun. 

    Pada negara yang sudah maju angka tingkat kematian kasar lebih rendah daripada negara – negara yang sedang berkembang. 

    b. Tingkat Kematian Khusus (Aged Specified Death Rate)


    Tingkat kematian dipengaruhi oleh beberapa faktor. Oleh karena itu maka digunakan tingkat kematian berdasarkan umur (Specific Death Rate). Angka ini menunjukan kematian pada kelompok umur tertentu 1000 penduduk pada kelompok umur yang sama, maka secara matematis ditulis:
    Di    = Kematian penduduk pada umur i.
    Pmi = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun kelompok i.
    K     = Konstanta (1.000)

    2. Fertilitas (Kelahiran Hidup)

    Pengukuran fertilitas tidak sesederhana dalam pengukuran mortalitas, hal ini disebabkan adanya alas an sebagai berikut:

    1. Sulit memperoleh statistik lahir hidup karena banyak bayi yang meninggal setelah lahir.
    2. Wanita mempunyai kemungkinan melahirkan dari seorang anak.
    3. Makin tua seorang wanita tidak berarti kemungkinan mempunyai anak semakin menurun.
    4. Di dalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja.
    Ada dua istilah asing yang berarti kesuburan:
    a. Facundity (kesuburan)
      Facundity adalah lebih diartikan sebagai kemampuan biologis wanita untuk mempunyai anak.
    b. Fertility (fertilitas)
     Fertility adalah jumlah kelahiran hidup dari seorang wanita atau kelompok wanita. Tingkat          kelahiran kasar (Crude Brith Rate/CBR) dirumuskan sebagai berikut:

    B     = Jumlah kelahiran hidup pada suatu dunia pada suatu tahun tertentu.
    PM  = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun.
    K     = Konstanta (1000).

    B    = Jumlah kelahiran hidup pada suatu daerah pada suatu tahun tertentu.
    Fm = Jumlah penduduk wanita pada pertengahan tahun (usia 15 th. – 44 th. / 15 th. – 49 th.).
    K    = Konstanta (1000).
    Age Specific Fertility Rate (ASFR) / Tingkat Kelahiran Khusus
    ASFR menunjukan banyaknya kelahiran menurut umur dari wanita yang berada dalam kelompok umur 15 – 49 tahun. Untuk perhitungan ASFR secara matematis ditulis:


    Bi    = Jumlah kelahiran dari wanita kelompok umur satu tahun.
    Fmi = Jumlah penduduk wanita pada pertengahan tahun dalam kelompok umur i.
    K     = Konstanta (1.000).

    Migrasi

    Aspek dinamis kehidupan kelompok dalam ruang ialah gerakan penduduk yang dinamai migrasi. Selain migrasi dikenal juga tentang dinamika penduduk yaitu mobilitas yang memiliki arti lebih luas dari pada migrasi sebab mencakup perpindahan teritorial secara permanen dan sementara. Dikatakan migrasi jika seseorang pindah minimal enam bulan atau satu tahun. Kurang dari kurun waktu tersebut maka disebut melakukan mobilitas sirkuler.

    Migrasi ini adalah merupakan akibat dari keadaan lingkungan alam yang kurang menguntungkan. Langkah – langkah migran adalah untuk mengetahui terlebih dahulu faktor – faktor sebagai berikut: 

    - Persediaan sumber alam 
    - Lingkungan sosial budaya 
    - Potensi ekonomi 
    - Alat masa depan 

      + = Attracting (menarik)
      0 = Nentarl
      -  = Repulsing
      --  = Hambatan antara

      Dengan adanya hambatan antara (intervening obtacles) maka timbul dua proses migrasi yakni:

      1. Migrasi bertahap 
      2. Migrasi langsung 
      Akibat Migrasi 
      a. Urbanisasi walaupun urutannya sangat kecil, namun dapat mempengaruhi pola distribusi penduduk secara keseluruhan. Para urbanit kebanyakan dari golongan umur muda yang sangat produktif memungkinkan pertumbuhan yang pesat di kota dan bagi pembangunan desanya sedikit banyak akan mempengaruhi kelancaran. 

      b. Migrasi intergional di Indonesia kebanyakan dilaksanakan oleh mereka yang berumur produktif dan kreatifitas tinggi. Hal tersebut memungkinkan tingginya angka pertumbuhan penduduk serta laju pembangunan di luar jawa. 

      c. Migrasi antar negara di Indonesia adalah sangat kecil, dari sensus penduduk pada tahun 1971 – 1980 migrasi masuk (immigrasi) hanya sebesar 0,61 % dan migrasi ke luar (emmigrasi) hanya sekedar 0,57 % per tahun. Sehingga kurang nyata terhadap distribusi penduduk Indonesia. Menurut Pallad komposisi penduduk merupakan distribusi statistik sejumlah individu yang tercakup dalam suatu jumlah penduduk tertentu menurut karakteristik seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, jenis pekerjaan dan sebagainya. Sedangkan menurut Josepx Y Spengler dan Otis Douley Duncan komposisi penduduk dapat diartikan sebagai gabungan frekuensi penyebaran ciri – ciri yang terstruktur atau variabel – variabel lain dari anggota –anggotanya. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengetahui: 

      - Cepat atau lambatnya pertumbuhan penduduk di suatu daerah 
      - Rasio ketergantungan - Jumlah wanita dalam usia subur 
      - Jumlah tenaga kerja yang tersedia 
      - Berdasarkan tempat tinggal 
      - Bentuk piramida bentuk
      Untuk mengetahui pertumbuhan penduduk dapat dilihat dari bentuk piramida penduduk. Keadaan struktur atau komposisi penduduk yang berbeda – beda akan menunjukan bentuk piramida yang berbeda – beda pula. Ada 3 jenis struktur penduduk:
      1. Piramida Penduduk Muda
        Piramida ini menggambarkan komposisi penduduk dalam pertumbuhan dan sedang                   berkembang. Dengan ciri jumlah kematian lebih besar daripada jumlah kematian.
      2. Piramida Stationer
        Bentuk piramida ini menggambarkan keadaan penduduk yang tetap (statis) sebab tingkat         kematian rendah dan jumlah kelahiran pun tidak begitu tinggi.



      3. Piramida Penduduk Tua Bentuk piramida penduduk ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kelahiran yang sangat pesat dan tingkat kematian kecil sekali. 


      Rasio Ketergantungan (Depedency Of Ratio) 

      Dari komposisi penduduk menurut umur dapat dipakai untuk menghitung rasio ketergantungan. Yang dimaksud rasio ketergantungan ialah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah penduduk golongan umur yang belum produktif dan sudah tidak produktif kerja lagi dengan jumlah penduduk golongan umur produktif kerja. Rasio ketergantungan dirumuskan sebagai berikut:

      DR= Rasio Ketergantungan 
      Jadi semakin tinggi jumlah penduduk usia muda dan jompo maka semakin tinggi rasio ketergantungannya. Sebagai ukuran ratio ketergantungan adalah sebagai berikut: DR kurang dari 62,33 % adalah baik DR lebih dari 62,33 % adalah buruk Berikut ini adalah penggolongan penduduk dalam kelompok produktif menurut beberapa tokoh. 

      Penggolongan menurut DW Sleumer: 
      0 – 14 tahun golongan belum produktif 
      15 – 19 tahun golongan belum produktif penuh 
      20 – 54 tahun golongan produktif 
      55 – 64 tahun golongan tidak produktif penuh 
      65 tahun ke atas golongan inproduktif 

      Penggolongan menurut Sumbarg 
      0 – 15 tahun golongan belum produktif 
      15 – 65 tahun merupakan golongan produktif penuh 
      65 tahun ke atas golongan produktif berkurang 

      Penggolongan menurut Widjojo, Pullerd, John Clark 
      0 – 14 tahun golongan belum produktif 
      15 – 64 tahun golongan produktif 
      65 tahun ke atas golongan tidak produktif
       
      B. Kebudayaan dan Kepribadian
      A. Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia dari Zaman Batu Sampai Zaman Logam
      Zaman batu terbagi menjadi dua:

      - Zaman batu tua (Paleolitikum)
      - Zaman batu muda (Neolitikum)
      Alat – alat batu pada zaman batu tua, baik bentuk maupun permukaan peralatan masih kasar contohnya adalah kapak genggam. Berdasarkan penelitian para ahli prehistori, bangsa – bangsa Proto Austronesia pembawa kebudayaan Neolitikum berupa batu besar maupun kecil bersegi – segi. Kapak pada zaman Neolitikum ini berasal dari China Selatan, menyebar ke arah selatan hingga sampai ke Semenanjung Malaka. Lebih lanjut hingga menyebar ke Sumatra, Jawa, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, Flores, Sulawesi, Filipina.

      Bersamaan dengan penyebaran budaya kapak – kapak batu itu, tersebar pula bahasa Proto Austronesia yang merupakan cikal bakal bahasa negara – negara anggota ASEAN, khususnya Indonesia. Zaman Neolitikum benar – benar membawa revolusi dalam kehidupan manusia. Penyelidikan – penyelidikan lebih lanjut menemukan bahwa maunusia zaman batu muda telah mengenal dan memiliki kepandaian mengecor/mencairkan logam dari biji besi. Bangsa – bangsa Proto-Austronesia yang masuk dari Semenanjung Indo China ke Indonesia itu membawa kebudayaan Bangsa Dongson dan menyebar di Indonesia. Materi Dongson diantaranya berupa senjata – senjata tajam dan kapak berbentuk sepatu dari bahan perunggu. Satu hal yang patut dicatat ialah kenyataan bahwa Indonesia pada zaman logam ini yaitu sebelum zaman Hindu telah mengenal kebudayaan yang tinggi derajatnya.

      B. Kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam
      1. Kebudayaan Hindu dan Budha
      Pada abad ke-3 dan ke-4 agama Hindu masuk ke Indonesia, khususnya ke Pulau Jawa yang menyebabkan perpaduan dan akulturasi antara kebudayaan setempat dengan kebudayaan Hindu. Hindu yang berasal dari india berlangsung luwes dan mantap.
      Kemudian sekitar abad ke-5 ajaran Budha atau Budhisme masuk ke Indonesia, khususnya ke pulau Jawa. Agama/ Ajaran Budha dapat dikatakan berpandangan lebih maju daripada ajaran Hinduisme, sebab dalam ajaran Budha tidak menghendaki adanya kasta – kasta.

      Walaupun demikian kedua ajaran Agama itu berkembang dan berdampingan secara damai di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Baik penganut Hinduisme atau Budhisme banyak melahirkan karya – karya budaya yang bernilai tinggi dalam seni bangunan/arsitektur, seni pahat, relief – relief yang diabadikan di candi, dan sebagainya. Contohnya adalah pada Candi Borobudur yang merupakan candi terbesar di Asia yang pernah tercatat sebagai bangunan kuno, yang dahulu sempat termasuk dalam 10 keajaiban dunia.

      2. Kebudayaan Islam

      Pada abad ke-15 dan ke-16 agama Islam berkembang di Indonesia. Islam dikembangkan di Indonesia oleh Wali Songo secara damai dan tidak ada paksaan. Titik sentral penyebaran Wali Songo ini adalah Pulau Jawa. Di daerah – daerah yang belum terpengaruh oleh ajaran Hindu, agama Islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk     di daerah yang bersangkutan. Misalnya di daerah Aceh, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatra Timur, Sumatra Barat, dan pesisir Kalimantan. Agama Islam berkembang pesat di Indonesia dan menjadi agama yang mendapat penganut sebagian terbesar penduduk Indonesia. Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa kebudayaan Islam memberi saham yang besar bagi perkembangan dan kepribadian bangsa Indonesia.

      C.Kebudayaan Barat

      Unsur kebudayaan barat juga memberi corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Kebudayaan Barat masuk ke Indonesia seiring dengan masuknya kolonial Belanda (VOC). Sudah menjadi watak dan keperibadian Timur pada umumnya, serta masyarakat Jawa khususnya, bahwa menerima setiap kebudayaan yang datang dari luar, kebudayaan yang dimilikinya tidaklah diabaikan. Tetapi disesuaikan dengan kebudayaan lama. Sehubungan dengan itu, penjelasan UUD 1945 memberikan rumusan tentang kebudayaan Bangsa Indonesia adalah: kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak – puncak kebudayaan daerah – daerah di seluruh Indonesia.
      Dampak dari kebudayaan barat di indonesia, Budaya adalah warisan turun temurun dari nenek moyang. Setiap Negara memiliki kebudayaan yang beragam. Indonesia adalah Negara yang sangat beragam kebudayaannya. Tetapi, kebudayaan local sudah dicampur adukkan oleh budaya asing. Banyak sekali perubahan perubahan yang terjadi akibat dari masuknya budaya asing ke dalam negeri. Biasanya, yang mudah terpengaruh adalah generasi muda di mana mereka menganggap bahwa budaya lokal adalah budaya yang ketinggalan zaman. Hal ini lama kelamaan akan mematikan budaya local yang seharusnya kita lestarikan.
      Budaya barat memang sudah menguasai peradaban dunia. Semua hal sudah didominasi oleh budaya barat. Namun tidak semua peran budaya barat memberikan dampak negative terhadap budaya lokal. Sebagai contoh peran budaya asing terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat menjadikan kita sebagai warga Negara yang beretika dan mengetahui apa yang harus kita lakukan terhadap warisan budaya dari nenek moyang yang sudah mendarah daging. Dampak negatifnya adalah apabila kebudayaan baru tidak disaring terlebih dahulu tetapi diterima secara mentah oleh masyarakat karena minimnya pengetahuaan masyarakat kita dibanding mereka yang berasal dari negara maju, akibatnya budaya asli masyarakat mengalami degradasi yang luar biasa.
      Kemajuan pemikiran mereka bila dipandang dari segi teknologi, memang sangat membantu kita kepada kemudahan-kemudahan hidup. Tetapi dengan kemudahan-kemudahan itu barat juga memasuki unsur pengrusakan budaya-budaya suatu negeri dengan kebudayaan mereka.
      Berikut sekilas pengaruh kebudayaan luar negeri khususnya kebudayaan barat terhadap kebudayaan dalam negeri :
      • Sebelum budaya asing bebas memasuki Indonesia, masyarakat Indonesia hidup berlandaskan norma norma kesusilaan tetapi sekarang di saat budaya local sangat mudah memasuki Indonesia, kebudayaan asli Indonesia lama lama terkikis dan hampir punah. Kita memang tidak dapat lepas dari penjajahan budaya barat yang terkesan jauh dari ajaran agama islam. Satu contoh adalah busana wanita yang sekarang menjadi trend dengan desain yang cendenrung menampilkan bagian tubuh wanita yang seharusnya ditutupi. Itu merupakan akibat dari penjajahan budaya barat.
      • Adanya ajang pemilihan miss universe yang mengaharuskan wakil dari Negara kita mengikuti trend budaya barat yang mengenakan busana terbuka.
      • Contoh lain adalah gaya pergaulan dari remaja remaja sekarang yang mengikuti trend budaya barat, tidak sedikit remaja remaja yang salah dalam bergaul, entah itu salah dalam memilih teman ataupun memang kurangnya pengetahuan norma norma agama yang dibekali oleh orang tuanya. Hal seperti ini sudah menjadi biasa bagi masyarakat Indonesia. Apalagi Kaum remaja paling rentan untuk menerima budaya asing yang bersifat negative. Yang seharusnya mereka menjadi regenerasi, tetapi mereka malah menghancurkan masa depan mereka dengan tujuan untuk gaya modern.
      Bagaimanapun kita harus bangga terhadap budaya sendiri. Menjaga norma norma agama agar tetap jadi ciri khas bangsa kita. Untuk apa kita mengikuti budaya asing kalau hanya mendapatkan dampak yang negatif. Saringlah dahulu budaya budaya yang baru masuk.

      D. Pendapat Mahasiswa mengenai penduduk masyarakat          dan kebudayaan
               Masyarakat indonesia tentu saja memiliki 1001 jenis kebudayaan yang tersebar luas di seluruh Indonesia, dari sabang sampai merauke. Kita juga harus mengetahui budaya apa saja yang ada di sekeliling kita yang memang sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, seperti ambengan. Ambengan kental dengan masyarakat betawi ini dilakukan ketika menjelang malam takbiran setelah berpuasa sebulan penuh yang artinya memberikankan rasa syukur kita kepada Allah SWT, yang telah memberikan rezeki yang berlimpah selama 1th penuh. Bila kita sebagai mahasiswa atau generasi muda dilingkungan sekitar sudah tidak peduli dengan kebudayaan kita sendiri maka jangan heran bila nanti dimasa mendatang budaya itu hilang dengan sendirinya karena pergeseran zaman atau efek globalisasi. Maka dari itu kita wajib menjaga kebudayaan dan melestarikanya agar kelak nanti anak cucu kita tetap bisa merasakan keberagaman budaya di Indonesia itu sendiri. Kebanyakan generasi muda zaman sekarang ini lebih asik dengan budaya barat dan banyak yang salah mempersepsikan sehingga budaya-budaya diIndonesia kian luntur akibat budaya barat itu sendiri, perkembangan teknologi yang tak ada habisnya salah satu faktor penyebab dari hilangnya budaya di Indonesia.
      Maka dari itu kita wajib melihat sejarah asal muasal bangsa Indonesia dengan keberagaman budayanya yang begitu indah. 

      Sumber :

      Nama : Zaldy Faturrahman AlfiSyahrin
      NPM   : 191136644
      Kelas  : 1KA07

      Minggu, 13 Oktober 2013

      BAB I Pengantar Ilmu Sosial Dasar

      Pengantar Ilmu Sosial Dasar
      A. Pengertian, Tujuan ISD dan IPS
           Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkain oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti: sejarah, ekonomi, geografi sosial, sosiologi, antropologi, psikologi sosial.
          Ilmu Sosial Dasar tidak merupakan gabungan dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan, karena masing-masing sebagai disiplin ilmu memiliki obyek dan metode ilmiahnya sendiri-sendiri yang tidak mungkin dipadukan.
          Ilmu Sosial Dasar bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri, karena Ilmu Sosial Dasar tidak mempunyai obyek dan metode ilmiah tersendiri dan juga is tidak mengembangkan suatu penelitian sebagai mana suatu disiplin ilmu, seperti ilmu-ilmu sosial di atas.
      TUJUAN
      Sebagai salah satu dari Mata Kuliah Dasar Umum, Ilmu Sosial Dasar mempunyai tujuan pembinaan mahasiswa agar :
      a. Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang ada dalam         masyarakat.
      b. Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usahamenanggulanginya.
      c. Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya           dapat mendekatinya mempelajarinya) secara kritis-interdisipliner.
      d. Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka       dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.
      3 Kelompok ilmu pengetahuan
      Berdasarkan sumber filsafat yang dianggap sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga :
      a. Natural Sciences (Ilmu-ilmu Alamiah), meliputi: Fisika, Kimia, Astronomi, Biologi dan lain-lain.
      b. Sosial Sciences (Ilmu-ilmu Sosial), terdiri dari : Sosiologi, Ekonomi, Politik Antropologi, Sejarah, Psikologi,             Geografi dan lain-lain.
      c. Humanities (Ilmu-ilmu Budaya) meliputi : Bahasa, Agama, Kesusastraan, Kesenian dan lain-lain.
      B. Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Pengetahuan Sosial
          Perbedaan ISD dengan IPS.

      1. Ilmu sosial dasar dibrikan di perguruan tinggi, sedangkan IPS diberikan di SD hingga SMA
      2. ISD merupakan satu mata kuliah tunggal, sedangkan IPS terdiri sejumlah mata pelajaran (untuk sekolah             lanjutan).
      3. ISD diarahkan untuk pembentukan sikap, sedangkan IPS diarahkan untuk pembentukan keterampilan.


          Persamaan ISD dengan IPS.

      1. Dua-duanya merupakan bahan studi untuk pendidikan
      2. Dua-duanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri
      3. Dua-duanya punya materi yang berasal dari masalah dan kenyataan sosial
      Ilmu sosial dasar dan Ilmu pengetahuan sosial sama-sama dibutuhkan satu sama lain karena saling berhubungan.
      C. 3 Golongan bahan pelajaran Ilmu Sosial Dasar
          Di berbagai masalah pasti ada jalan keluarnya entah bagaimana caranya pasti ada saja yang menemukannya dari melihat dari adanya fakta, analisis bermula suatu permasalahan, sampai cara berunding pun bisa mengatasi masalahnya maka dari itu didalam sebuah Ilmu sosial dasar terdapat tiga golongan bahan pelajaran yaitu :
      1. Nilai yang menjadikan sebuah masalah masyarakat yang dijadikan sebagai keperhatinan publik yang harus segera diselesaikan karena apa bila, kita tidak segera menyelesaikan sebuah masalah itu maka, keributan dan tercemarlah masalah itu ke wilayah masyarakat yang belum pernah menghadapi masalah seperti itu maka sudah rusaknya lingkungan tersebut.
      2. Menangani sebuah permasalahan yang timbul akibat disengajakan atau tidak disengajakan, dikarenakan kita harus bisa mempelajari masalah tersebut agar tidak timbul masalah yang sama dan mempunyai dampak efek yang berbeda dari setiap masalah yang timbul
      3. Sesuatu yang keterkaitannya dengan masalah yang berhubungan dengan yang satu dengan yang lainnya, merupakan obyek yang tidak mudah dalam mencari sumber masalahnya apa bila semuanya ikut keterkaitan dalam masalahnya.
      sumber :

      Nama : Zaldy Faturrahman AlfiSyahrin
      NPM : 19113664
      Kelas : 1KA07