Selasa, 28 Oktober 2014

PENGERTIAN ORGANISASI

BUDAYA ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI

LITA WULANTIKA, SE., M.Si.

Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Komputer Indonesia


Organisasi mempunyai kepribadian, seperti halnya individu. Kita menye-but kepribadian tersebut sebagai budaya organisasi. Budaya organisasi adalah system pengertian yang diterima secara bersama. Karakteristik utamanya adalah inisiatif individual, toleransi terhadap risiko, arah (direction), integrasi, dukungan manajemen, kontrol, identitas, system imbalan, toleransi terhadap konflik, dan pola-pola komunikasi.

Organisasi mempunyai budaya yang dominan dan sub-sub budaya. Yang pertama mengutarakan nilai inti yang dirasakan bersama oleh mayoritas anggota organisasi, meskipun organisasi besar juga mempunyai nilai-nilai tam-bahan yang diutarakan dalam sub-sub buadaya. Budaya yang kuat adalah bu-daya dimana niali-nilai dianut dengan kuat, ditata dengan jelas, dan dirasakan bersama secara luas. Budaya yang kuat meningkatkan konsistensi perilaku. Oleh karena itu, budaya semacam ini dapat berfungsi sebagai pengganti for-malisasi.


Budaya-budaya yang kuat menekankan para pekerja agar dapat menye-suaikan diri dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya-budaya terse-but, budaya-budaya dengan nilai yang kuat tersebut membatasi ukuran-ukuran nilai dan gaya yang dapat diterapkan.suatu organisasi memperkerjakan individu-individu yang beragam karena ingin memiliki kelebihan-kelebihan alternative yang mereka bawa ke dalam lingkungan kerja, akan tetapi kelebihan-kelebihan yang beragam ini terserap ke dalam budaya yang lebih kuat karena para pekerja berupaya untuk menyesuaikan diri dengan budaya yang lebih kuat

Pembentukan budaya memerlukan waktu sehingga apabila sudah ter-bentuk, budaya tersebut kemudian mengakar kokoh budaya-budaya yang kuat mampu bertahan terhadap perubahan karena para karyawan yang menganut-nya sangat memegang nilai-nilai budaya tersebut.


Sumber budaya organisasi adalah para pendirinya. Budaya organisasi dipertahankan melalui proses seleksi dan sosialisasi organisasi serta tindakan manajemen puncak. Budaya organisasi disebarluaskan melalui cerita, ritual, symbol material, dan bahasa.


Perbedaan disekitar budaya organisasi menyangkut apakah ia dapat dikelola atau tidak. Budaya dapat diubah, tetapi tampaknya diperlukan beberapa kondisi untuk melakukan perubahan tersebut. Pada kondisi yang menguntungkan seka-lipun para menajer tidak dapat mengharapkan bahwa nilai-nilai budaya yang baru akan diterima dengan cepat. Perubahan budaya harus dihitung dalam jangka waktu tahunan, bukan bulanan.

PENDAHULUAN

Dalam rangka mempercepat tumbuh dan berkembangnya suatu organisasi, maka ratusan organisasi mencoba memilih melakukan Merger, namun ternyata hasilnya tidak menggembirakan. Data penelitian mengungkapkan bahwa sebanyak 90% mengalami kegagalan dan hal ini ternyata diakibatkan terutama karena konflik budaya. Hasil riset lain pun menunjukkan bahwa 74% organisasi mengalami kegagalan karena tidak memperhatikan faktor budaya seperti nilai-nilai inti organisasi.Tata nilai organisasi berperan sebagai sumber kekuatan penting yang diyakini dan dianut secara luas dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan.


Budaya berguna bagi organisasi dan karyawan. Budaya mendorong terciptanya komitmen organisasi dan meningkatkan konsistensi sikap karyawan.Budaya merupakan suatu kecenderungan pada saat nilai-nilai bersama tidak selaras dengan efektivitas organisasi untuk waktu-waktu selanjutnya. Konsistensi terhadap perilaku merupakan asset bagi suatu organisasi yang berada didalam lingkungan yang stabil. Tetapi konsistensi tersebut mungkin saja akan memberatkan organisasi dan menghalangi kemampuan organisasi tersebut dalam merespons perubahan-perubahan didalam lingkungan.


Proses perubahan budaya dalam suatu organisasi tidaklah mudah kecuali jika kegiatan memetakan Profil Budaya Organisasi (PBO) tersedia fasilitasnya. Profil Budaya Organisasi (PBO) merupakan Wujud keluaran kegiatan mendiagnosis budaya.Pentingnya mendiagnosis dan memfasilitasi perubahan budaya organisasi ditujukan untuk kemudahan beradaptasi dengan tantangan perubahan lingkungan organisasi dan peningkatan keefektifan organisasi dan kinerjanya. PBO merupakan acuan vital kepentingan Manajemen puncak dalam menggerakkan dan mengendalikan arah perubahan.


Perubahan budaya tanpa ada upaya perubahan perilaku personal anggota organisasi adalah suatu hal yang fiksi atau merupakan khayalan besar. Tanpa perubahan perilaku para anggota organisasi terutama para pengambil keputusannya, maka proses perubahan budaya organisasi tidak akan terjadi. Perubahan kebiasaan atau perubahan budaya pada akhirnya bergantung pada implementasi perilaku dari para individu yang menguatkan dan konsisten dengan tata nilai budaya baru.


Seringkali para Manajer tahu harus kemana berubahnya arah budaya dalam organisasi yang ia pimpin, tetapi seringkali juga tidak tahu dimana memulainya, keputusan dan tindakan apa yang harus diprakarsai dan bidang apa saja yang harus diprioritaskan.


Kunci implementasi perubahan budaya adalah berubahnya perilaku individu, sedangkan perubahan perilaku individu selalu melalui proses belajar. Berubahnya perilaku individu secara luas berdasarkan PBO dan tata nilai yang dianut bersama, mengakibatkan terjadinya implementasi perubahan budaya dengan lebih terarah, focus dan sistemik.


PEMBAHASAN

Definisi Budaya Organisasi

Budaya organisasi merujuk pada suatu system pengertian bersama yang di pegang oleh anggota-anggota suatu organisasi,yang membedakan organisasi tersebut dari organisasi lainya.


Budaya organisasi (Robbbins 2005) merupakan suatu sistem dari makna/arti bersama yang dianut oleh para anggotanya yang membedakan organisasi dari organisasi lainnya, menurut Werther (1996) adalah produk dari semua fitur/karakteristik organisasi, para anggotanya, kesuksesan dan kegagalannya;

Menurut Kreitner & Kinicki (2007)

Budaya organisasi adalah nilai dan keyakinan bersama yang mendasari identitas organisasi;

Tingkat organisasional, budaya merupakan seperangkat asumsi-asumsi, keyakinan-keyakinan, nilai-nilai dan persepsi yang dimiliki betsama oleh anggota kelompok daam suatu organisasi, yang membentuk dan mempengaruhi sikap, perilaku, serta petunjuk dalam membentuk dan mempengaruhi sikap, perilaku, serta petunjuk dalam memecahkan masalah (Gibson, Ivanicevic & Donelly, 2000) ;

Menurut Fred Luthans (2007) budaya organisasi adalah tata nilai & norma yang menuntun perilaku jajaran organisasi ;

Budaya organisasi (Glinow & McShane, 2007) terdiri dari nilaidan asumsi bersama di dalam organisasi;

Taliziduhu Ndraha (1997) mengemukakan bahwa budaya organisasi sebagai input terdiri dari pendiri organisasi,pemilik organisasi,sumber daya manusia, pihak yang berkepentingan dan masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa budaya merupakan pengendali sosial dan pengatur jalannya organisasi atas dasar nilai dan keyakinan yang dianut bersama, sehingga menjadi norma kerja kelompok, dan secara operasional disebut budaya kerja karena merupakan pedoman dan arah perilaku kerja karyawan.


Karakteristik utama yang menjadi pembeda budaya organisasi:

   1. inisiatif individual

   2. Toleransi terhadap tindakan berisiko

   3. Arah

   4. Integrasi

   5. Dukungan dari manajemen

   6. Kontrol

   7. Identitas

   8. Sistem imbalan

   9. Toleransi terhadap konflik


Pola-pola komunikasi

Kesepuluh karakteristik tersebut mencakup dimensi struktural maupun prilaku.kebanyakan, dimensi tersebut berkaitan erat dengan desain organisasi.untukmenggambarkannya, makin rutin teknologi sebuah organisasi dan makin disentralisasi. Proses pengambilan keputusanya maka makin kurang juga inisiatif individual para pegawainya.demikian pula struktur fungsional menciptakan budaya yang mempunyai lebih banyak pola komunikasi formal dari pada struktural sederhana atau yang matrik,analisis yang lebih mendalam akan memperhatikan bahwa integrasi pada dasarnya adalah sebuah indikator tentang interpendensi horizontal.maksudnya adalah bahwa budaya organisasi bukan hanya refleksi dari sikap para anggota serta kepribadiannya.sebagian besar budaya organisasi dapat dilacak langsung pada variable-variabel yang berhubungan secara structural.


Dimensi Budaya Organisasi

Banyak pendapat tentang dimensi budaya sebagai nilai bersaing, yang dikemukakan oleh para pakar atau ahli, ataupun praktisi dalam menentukan indikator yang mempengaruhi keefektifan organisasi. Umumnya dimensi budaya merupakan hasil dari penelitian yang mereka lakukan atau yang mereka hadirkan dengan tetap mempertimbangkan hasil-hasil riset yang telah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya.

Menurut Stephen P. Robbins

Ada 7 dimensi budaya menurut Robbins, yaitu sebagai berikut:

a. Inovasi dan Pengambilan Resiko

    (Innovation and Risk Taking) Tingkat seberapa jauh para anggota organisasi       didorong menjadi inovatif dan pengambilan resiko guna terwujudnya visi.

b. Perhatian pada Detil (Attention to Detail)

    Tingkat seberapa jauh para anggota organisasi diharapkan                                   untuk memperlihatkan presisi, analisis dan perhatian untuk detil.

c. Orientasi Hasil (Outcome Orientation)

    Tingkat seberapa jauh manajemen fokus pada hasil daripada teknik                     dan proses yang dipakai untuk mencapai hasil-hasilnya.

d. Orientasi kepada Para Individu

    (People Orientation) Tingkat seberapa jauh keputusan manajemen                      memperhitungkan dampaknya pada para individu di dalam organisasi.

e. Orientasi Tim (Team Orientation)

    Tingkat seberapa jauh aktivitas pekerjaan diorganisasikan kepada                       tim daripada individual.

f. Keagresifan (Aggressiveness)

   Tingkat seberapa jauh para individu agresif dan kompetitif dari pada                    “easy going”.

g. Stabilitas (Stability)

    Tingkat sejauh mana kegiatan organisasi menekankan posisi status

    quo daripada perubahan organisasi.


C. Fungsi-fungsi Budaya

Budaya memiliki beberapa fungsi didalam suatu organisasi. Pertama, budaya memiliki suatu peran batas-batas penentu; yaitu, budaya menciptakan perbedaan antara satu organisasi dengan organisasi yang lain. Kedua, budaya berfungsi untuk menyampaikan rasa identitas kepada anggota-anggota organisasi. Ketiga, budaya mempermudah penerusan komitmen hingga mencapai batasan yang lebih luas,melebihi batasan ketertarikan individu. Keempat, budaya mendorong stabilitas system sosial. Budaya merupakan suatu ikatan sosial yang membantu mengikat kebersamaan organisasi. Fungsi yang terakhir, budaya bertugas sebagai pembentuk rasa dan mekanisme pengendalian yang memberikan panduan dan bentuk prilaku serta sikap karyawan.


Menurut Kreitner & Kinicki (2007) di dalam bukunya yang ber judul Organizational Behavior fungsi budaya organisasi mencakup sebagaimana yang diperlihatkan pada bagan 1.1. Identitas Organisasi Komitmen Kolektif Alat yang memberi Stabilitas Sistem Budaya Bagan 1.1 fungsi Budaya Organisasi

D. Bagaimana Suatu Budaya Berawal Suatu budaya organisasi tidak muncul begitu saja. Bila sudah terbentuk mantap, budaya tidak akan menghilang begitu saja. Budaya awal berasal dari filosofi pendiri organisasi.Hal ini selanjutnya sangat mempengaruhi Kriteria yang digunakan dalam proses penerimaan

karyawan baru. Para pendiri organisasi secara tradisional memiliki pengaruh yang dominan dalam membentuk budaya awal. Dikarenakan para pendiri tersebut memiliki ide yang masih asli, mereka biasanya juga memiliki bias tentang cara bagaimana ide-ide tersebut bisa terpenuhi. Budaya organisasi dihasilkan dari interaksi antara bias dan asumsi para pendiri dengan apa yang dipelajari selanjutnya oleh anggota awal organisasi, dari pengalaman mereka sendiri.

Sumber yang paling pokok dan awal dalam menciptakan budaya, adalah para

pendirinya. Langkahnya harus dimulai

dari:

1. Berbagi pengetahuan.

2. Praktek atau amalkan pengetahuannya.

3. Kembangkan keterampilan dan kemampuan yang sesuai.

4. Miliki sikap yang konsisten dalam menanggapi berbagai hal.

5. Pupuk kebiasaan.

6. Tampilkan karakter sesuai kebiasaan pada berbagai kesempatan.


Selanjutnya diseleksi orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan kepemimpinan dan keteladanan untuk melanjutkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kaidah dan norma dari para pendirinya. Komitmen manajemen puncak yang diperagakan amat menentukan implementasi perubahan budaya organisasi. Wujudnya dapat berupa penetapan keputusan yang terkait dengan pembentukan budaya baru, tindakan & keterlibatan pimpinan puncak dan besarnya dukungan sumber daya yang dialokasikan. Kegiatan manajemen ini menjadi semakin penting karena dipandang sebagai aktivitas yang bertanggungjawab atas penciptaan, pertumbuhan dan kelangsungan organisasi. Organisasi agar selalu mensosialisasikan program kegiatan dengan berbagai metode sosialisasi dan sesuai dengan tata nilai budaya, selama karir bekerja dari anggotanya. Metode sosialisasi ini diperlukan untuk penyebarluasan kepada para anggota organisasi dan internalisasi diri (menambah keyakinan) kepada individu yang bersangkutan, misalnya dengan ceramah berulangkali.


Pembentukan budaya digambarkan seperti terlihat pada bagan 1.2. 

Filosofi Para Pendiri Organisasi - Kriteria Seleksi - Manajemen Puncak dan Sosialisasi - Budaya Organisasi.

Bagan 1.2 Bagaimana Organisasi Membentuk Budaya

E. Menjaga Suatu Budaya Tetap Hidup Untuk mempertahankan budaya sedikitnya terdapat Tiga kekuatan memainkan suatu peran penting, yaitu:

1. Tindakan dan keterlibatan manajemen puncak Komitmen manajemen puncak     yang diperagakan amat menentukan implementasi perubahan                             budaya organisasi. Wujudnya dapat berupa penetapan keputusan yang               terkait dengan pembentukan budaya baru, tindakan & keterlibatan pimpinan

    puncak dan besarnya dukungan sumber daya yang dialokasikan.

2. Praktek Seleksi Direkrut dan diseleksi orang yang memiliki pengetahuan,           keterampilan kepemimpinan dan keteladanan untuk mempertahankan                 budaya sesuai dengan kaidah dan norma dari tata nilai dari budaya                     organisasi.

3. Metode dan keefektifan penerapan sosialisasi Bagaimana bagusnya                   pelaksanaan penerimaan dan penyeleksian pegawai baru yang dilakukan           suatu organisasi, karyawan-karyawan baru tidak sepenuhnya terdoktrin               dengan budaya organisasi tersebut. Dikarenakan tidak terbiasa dengan

    budaya organisasi tersebut, karyawan-karyawan baru                                           memiliki kecenderungan untuk mengganggu kepercayaan dan kebiasaan y         yang sudah berlaku. Dengan demikian, organisasi perlu membantu                     karyawan-karyawan baru tersebut dalam beradaptasi dengan budaya                 mereka. Proses adaptasi ini disebut sosialisasi.

    Organisasi agar selalu mensosialisasikan program kegiatan dengan berbagai     metode sosialisasi dan sesuai dengan tata nilai budaya. Sosialisasi dapat           dikonsepkan sebagai suatu proses yang terdiri dari tiga tahap: kedatangan,         orientasi dan metamorfosis.


Tahap pertama mengarah pada semua pembelajaran yang dilakukan sebelum

karyawan baru bergabung dengan organisasi.

Tahap kedua, karyawan baru berusaha mencari seperti apa organisasi tersebut membandingkan keadaan yang diharapkan dengan realita yang mungkin saja berada.

Tahap ketiga, muncul dan berlaku perubahan yang relatife bertahan lama. Karyawan-karyawan baru menguasai keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan yang mereka lakukan, berhasil mengikuti proses sosialisasi.

Bagan 1.3 Proses Sosialisasi Budaya Organisasi


Melakukan hal yang baru, dan mampu melakukan penyesuaian terhadap nilai dan norma yang berlaku didalam kelompok. Proses dengan tiga tahap ini berpengaruh pada prokdutivitas kerja dan komitmen karyawan baru terhadap tujuan organisasi, dan keputusan mereka untuk tetap bergabung dengan organisasi. Tahap kedatangan terjadi sebelum karyawan tersebut bergabung dengan organisasi, dan mereka datang dengan serangkaian nilai-nilai, sikap, dan tuntunan yang sudah ada. Sebagai contoh anggota yang telah profesional dapat dipastikan mengalami tingkat sosialisasi yang tinggi, sebaliknya dengan anggota baru mengalami tingkat sosialisasi yang rendah. Proses seleksi itu sendiri digunakan oleh kebanyakan organisasi untuk menginformasikan kepada calon karyawan tentang organisasi secara keseluruhan dan untuk memastikan kesesuian yaitu, mereka-mereka yang cocok akan masuk kedalam organisasi. Selanjutnya, keberhasilan ditentukan oleh tingkat antisifasi anggota-anggota yang ingin benar-benar bergabung dan menghadapi tuntutan dan keinginan organisasi, sebagai pihak yang menyeleksi.


F. BAGAIMANA KARYAWAN MEMPELAJARI BUDAYA

Budaya ditularkan kepada karyawan dengan menggunakan beberapa bentuk, yang paling banyak digunakan adalah :

- Cerita

- Kegiatan ritual

- Simbol materi

- Bahasa

“kondisi-kondisi umum” bagaimana yang dapat mempermudah untuk mengubah suatu budaya? perubahan budaya dapat dilakukan bila semua atau hampir semua kondisi-kondisi berikut:

1. Krisis yang dramatis.kondisi yang paling disepakati secara universal ada sebelum budaya dapat diubah krisis yang dirasakan secara luas oleh anggota organisasi, inilah Shock(rasa kaget) yang merusak status quo tersebut, kondisi ini mempertanyakan praktek-praktek yang saat itu berlaku dan membuka pintu kearah penerimaan sejumlah nilai yang akan dapat lebih menanggapi krisis tersebut.

2. Penggantian pemimpin Karena manajemen puncak merupakan faktor yang penting dalam penyebarluasan budaya, maka perubahan posisi kepemimpinan yang penting membantu penerapan nilai-nilai yang baru. pemimpin yang baru harus mempunyai visi alternatife yang jelas mengenai apa organisasi itu;harus ada rasa hormat terhadap kemampuan dari kepemimpinan tersebut; dan para pemimpin yang baru harus mempunyai kekuasaan untuk memberlakukan visi alternatife mereka. penggantian kepemimpinan harus mencakup eksekutif tertinggi(chif executive) organisasi. tetapi itu tidak terbatas hanya pada posisi tersebut bergerak kea rah perubahan budaya biasanya akan bertambah jika dilakukan pembersihan posisi manajemen utama.

3. Tahap Daur Hidup. perubahan budaya lebih mudah dilaksanakan jika organisasi tersebut berada dalam transisi dari tahap pembentukan ke tahap pertumbuhan, dan dari kedewasaan ke munduran. sementara organisasi tersebut bergerak kea rah pertumbuhan diperlukan adanya perubahan penting.

4. Umur organisasi bersangkutan diluar dari tahap daur hidupnya, makin muda umur organisasi, maka akan makin kurang berakar pula nilai-nilainya. Oleh karena itu kita dapat meramalkan bahwa perubahan budaya kemungkinan akan lebih diterima pada suatu organisasi yang hanya berumur lima tahun dari pada yang sudah berumur lima puluh tahun.

5. Ukuran organisasi itu menyatakan bahwa perubahan budaya akan lebih mudah untuk dilaksanakan dalam organisasi yang kecil.mengapa ? dalam organisasi yang demikian, lebih mudah bagi manajemen untuk berhubungan

dengan para pegawai. Komunikasi lebih jelas, dan model tentang peran lebih terlihat pada suatu organisasi kecilsehingga mempertinggi peluang untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang baru.

6. Kekuatan dari budaya yang berlalu.makin luas suatu budaya dianut dan makin tinggi kesetujuan diantara para anggota mengenai nilai-nilai budaya itu, maka makin sukar pula untuk menggantikannya. Sebaliknya, budaya yang lemah lebih dapat disesuaikan dengan perubahan daripada budaya yang kuat.

7. Tidak adanya sub-budaya. Heterogenitas meningkatkan perhatian para anggota untuk melindungi kepentingan pribadi mereka dan untuk menentang perubahan. Oleh karena itu,kita dapat memperkirakan bahwa makin banyak sub-budaya,maka makin besar pula tantangan terhadap perubahan budaya yang dominan. Tesis ini dapat juga dihubungkan dengan ukuran organisasi.organisasi yang lebih besar akan mempunyai daya tahan terhadap perubahan budaya karena organisasi demikian cenderung memiliki lebih banyak sub-budaya.


G. Budaya organisasi dan Keefektifan organisasi

Bagaimana budaya mempe-ngaruhi keefektifan organisasi? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama kita perlu membedakan budaya yang kuat dari yang lemah. Budaya yang kuat dicirikan oleh nilai inti dari organisasi yang dianut dengan kuat, diatur dengan baik, dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui jajaran tingkat kepentingannya, dan merasa sangat terikat kepadanya, maka makin kuat budaya tersebut. Nilai-nilai inti adalah 4 jenis budaya atau disebut juga kuadran budaya yang dibentuk dari 2 dimensi utama (dimensi pertama dan kedua), yang dirasakan atau dikehendaki dan diyakini mempengaruhi keefektifan organisai dan kinerja sesuai tantangan perubahan lingkungan. Dua dimensi utama tersebut bersama-sama membentuk 4 kuadran budaya atau disebut juga jenis budaya. Dimensi utama merupakan indikator keefektifan organisasi

Dimensi pertama membedakan kriteria keefektifan yang menekankan fleksibilitas, keleluasaan (discretion) dan dinamis, dengan/dari kriteria keefektifan yang menekankan stabilitas, tatanan dan kontrol.


Dimensi kedua membedakan kriteria keefektifan yang menekankan pada orientasi internal, integrasi dan kesatuan dengan/dari kriteria keefektifan yang menekankan pada orientasi eksternal, diferensiasi (pembedaan) dan pesaingan.

Organisasi yang muda atau yang turn over anggotanya konstan, mempunyai budaya yang lemah karena para aggota tidak mempunyai pengertian yang sama dan pengalaman yang diterima bersama. Ini jangan diartikan bahwa semua organisasi yang sudah matang dengan anggota yang stabil akan mempunyai budaya yang kuat. Nilai intinya juga dianut dan dijunjung kuat.

Organisasi agama, kebathinan, dan perusahaan jepang merupakan contoh organisasi yang mempunyai budaya yang kuat. Perilaku para anggota organisasi yang mempunyai budaya yang kuat akan mempengaruhi peningkatan keeektifan organisasi dan kinerjanya.

The strategic serources are ideas and information that come out af our minds and determined by the quality of our thought”. Sukses tidaknya seseorang amat bergantung pada cara berfikir orang tersebut, terlebih sumber daya strategis berasal dari gagasan dan informasi yang keluar dari pikiran kita. Belajar bagaimana proses berfikir, berfikir dan belajar akan menyelamatkan manusia dari lebah kehancuran dan mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban. Apapun karya manusia yang pernah ada  selalu melalui proses perubahan perilaku dan awalnya tercipta melalui proses berpikir dalam alam pikiran, lalu dikembangkan dan diwujudkan pada alam nyata.


Perilaku manusia dan perubahannya dibentuk oleh perpaduan dari aspek cognitive (terkait dengan berpikir), psychomotor (terkait dengan bertindak) dan affective (terkait dengan bersikap) dan dipengaruhi oleh karakteristik dasar lainnya. Ketiga aspek tersebut sering dikenal sebagai faktor KSA (Knowledge/berpikir, Skill/keterampilan, Attitude/sikap). KSA amat dipengaruhi oleh Values and Beliefs yang telah tertanam pada diri yang bersangkutan. Dipandang dari keterampilan berinteraksi, setiap individu/pekerja atau manusia dapat pula diklasifikasikan kemampuannya menurut:

1.  Interpersonal Skill; yaitu keterampilan berinteraksi antar personal

2.  Intra Personal Skill; keterampilan berinteraksi di dalam diri setiap manusia yang paling dalam. Sedangkan peran implementasi adalah peran yang dimainkan oleh setiap individu yang berinteraksi dengan individu lainnya dalam kelompok atau organisasi yang dapat mengubah perilakunya, dalam melaksanakan tujuan bersama guna memaksimumkan kepuasan (produktivitas).


Jika perpaduan ketiga aspek cognitive, psychomotor, dan affective telah mengalami internalisasi atau sosialisasi dan telah terjadi penghayatan yang mendalam bagi diri dan kepentingan yang bersangkutan, itu berarti telah terjadi perubahan bersikap, berpikir dan bertindak. Tentunya perubahan sikap, perubahan cara berpikir dan bertindak akan mempengaruhi perubahan perilaku. Sedangkan perubahan perilaku akan mempengaruhi peningkatan keefektifan organisasi dan kinerjanya.


Jika terjadi proses pembiasaan bagi para anggota organisasi atas perubahan tersebut, itu berarti membentuk suatu kebiasaan yang diyakini secara luas oleh para anggota organisasi. Kebiasaan yang diyakini secara luas dan merasa terikat kepadanya,sebagai sumber kekuatan penting dan berharga, megakibatkan terjadinya perubahan dan pembentukan budaya. Dengan demikian terjadinya perubahan budaya berarti mempengaruhi keefektifan organisasi dan kinerjanya untuk tumbuh dan berkembang.

Leader Values Beliefs - Cognitive (TAK BISA DILIHAT)KNOWLEDGE:BERPIKIR (MENTAL SKILL) SPT: DAYA INGAT DAN - Affective (TAK BISA DILIHAT) ATTITUDE: KECENDERUNGAN SPT: PERCAYA, CURIGA, BURUK SANGKA - Psychomotor (BERTINDAK) - Internalisasi/ sosialisasi (penghayatan) Perubahan sikap, berpikir dan bertindak (kinerja) -Budaya / Culture Solid - Tumbuh & Berkembang - Kinerja - Kefektifan Organisasi.

Bagan 1.4.Budaya.keefektifan dan kinerja

Menggerakkan perubahan organisasi menurut David Firth (2000) mencakup the leadership dominant, the changing team dominant, the employee dominant. Mengingat penataan organisasi berhadapan dengan berbagai jenis perubahan, keefektifan organisasi menurut Verma (1997) bergantung pada 4 faktor utama yaitu people factors, structural factor, technological factor dan teamwork.

Setiap penerapan suatu sistem atau tindakan yang akan mempengaruhi kesuksesan organisasi, memecahkan dan menyelesaikan persoalan yag dihadapi, berarti menghadirkan perubahan perilaku. Umumnya sebagian besar orang setuju dengan suatu perubahan terlebih untuk ke arah yang lebih baik, namun sering tidak setju dengan proses perubahannya.

Dalam menumbuh kembangkan organisasi perlu dimiliki keunggulan bersaing yang dapat meningkatkan keefektifan organisasi dan kinerjanya.

Peningkatan keefektifan organisasi den kinerjanya dipengaruhi oleh perilaku para anggotanya. Jika perilaku tersebut mengakibatkan terjadinya proses internalisasi diri (penghayatan yang akan membentuk keyakinan di alam pikiran alam bawah sadar), maka terjadilah pembentukan budaya sesuai perilaku yang dianut, karena telah terjadi perubahan sikap, cara berfikir dan bertindak.


PENUTUP

Budaya berguna bagi organisasi dan karyawan. Budaya mendorong terciptanya komitmen organisasi dan meningkatkan konsistensi sikap karyawan.

Budaya merupakan suatu kecenderungan pada saat nilai-nilai bersama tidak selaras dengan efektivitas organisasi untuk waktu-waktu selanjutnya. Konsistensi terhadap perilaku merupakan asset bagi suatu organisasi yang berada didalam lingkungan yang stabil. Tetapi konsistensi tersebut mungkin saja akan memberatkan organisasi dan menghalangi kemampuan organisasi tersebut dalam merespons perubahan-perubahan didalam lingkungan.

Suatu budaya organisasi tidak muncul begitu saja. Bila sudah terbentuk mantap, budaya tidak akan menghilang begitu saja.


Suatu budaya yang kuat ditandai oleh nilai-nilai inti organisasi yang dipegang kukuh dan disepakati secara luas.sejalan dengan definisi ini,suatu budaya yang kuat jelas sekali akan memiliki pengruh yang besar dalam sikap anggota organisasi dibandingkan dengan budaya yang lemah.

Hasil spesifik dari suatu budaya yang kuat adalah keluar masuknya pekerja yang rendah rendah. Suatu budaya yang kuat akan memperlihatkan kesepakatan yang tinggi mengenai tujuan organisasi diantara anggota-anggotanya.


DAFTAR PUSTAKA

Luthans, Fred.1992. Organizational Be-havior. Japan : McGraw-Hill Com-pany.

Ndraha, Taliziduhu.1997. Budaya Organisasi. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Robbins,P.,Stephen.1992.Essential of Or-ganization Behavior. New Jersey : Prentice-Hall International,Inc.

Schein,H.,Edgard.1992.An organizational Culture and Leadership.San Fran-sisco : Yossey Bass Publisher.

Lita Wulantika


SUMBER : http://jurnal.unikom.ac.id/_s/data/jurnal/v07-n02/volume-72-artikel-7.pdf/pdf/volume-72-artikel-7.pdf

Kamis, 24 Juli 2014

PRINSIP-PRINSIP MORAL UNTUK MEMBANGUN PRIBADI KUAT

1. KEJUJURAN
 Dasar setiap usaha untuk menjadi orang yang kuat secara moral adalah kejujuran. Tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak bisa maju selangkah pun karena kita belum berani menjadi diri kita sendiri.
Tanpa kejujuran keutamaan-keutamaan moral lainnya juga akan kehilangan. Bersikap baik terhadap orang lain tanpa kejujuran adalah kemunafikan. Begitu juga sikap-sikap terpuji menjadi sarana kelicikan dan penipuan apabila tidak berakar dalam kejujuran yang bening.
Bersikap jujur terhadap orang lain berarti dua: pertama, sikap terbuka, kedua bersikap adil atau wajar. sikap terbuka yang dimaksud yaitu kita selalu muncul sebagai diri kita sendiri, sesuai dengan keyakinan kita. Dalam setiap sikap dan tindakan kita memang hendaknya tanggap terhadap kebutuhan. Kedua terhadap orang lain orang jujur bersikap wajar atau fair, ia memperlakukan menurut stendart-standart yang diharapkannya di pergunakan orang lain terhadap dirinya. Ia menghormati hak orang lain, ia akan selalu memenuhi janji yang diberikan. Ia tidak pernah akan berindak bertentangan dengan suara hati atau keyakinannya.
Kita dapat bersikap jujur terhadap orang lain, apabila kita jujur terhadap diri kita sendiri dengan kata lain, kita pertama-tama harus berhenti membohongi diri kita sendiri, kita harus berani melihat diri seadanya. Orang jujur tidak perlu mengkompensasikan perasaan minder dengan menjadi otoriter dan menindas orang lain.
Orang yang tidak jujur senantiasa berada dalam pelarian, ia lari dari orang lain yang ditakuti sebagai ancaman, dan ia lari dari dirinya sendiri karena tidak berani menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Maka kejujuran membutuhkan keberanian. Apabila kita berani untuk berpisah dari kebohongan, kita akan mengalami sesuatu yang amat menggairahkan, kekuatan batin kita bertambah. Meskipun lemah, kita tahu bahwa kita kuat. Maka amatlah penting agar kita mulai menjadi jujur.


2.  NILAI – NILAI OTENTIK
 Otentik berarti asli, manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, dengan kepribadian yang sebenarnya. Sedangkan manusia yang tidak otentik adalah orang yang seakan-akan tidak mempunyai kepribadian sendiri melainkan terbentuk oleh peranan yang di timpakan kepadanya oleh masyarakat.
Untuk menguji keotentikan cita-cita perlu percobaan-percobaan, contohnya ia memasuki lingkungan yang lain dengan nilai-nilai yang lain yang tanggung jawab dan inisiatifnya di tantang dan di beri kesempatan untuk menunjukkan inisiatifnya dengan tidak terlalu diatur dsb.
Tentu nilai-nilai dapat berkembang. Orang harus mengerti apa yang sebenarnya di nilainya tinggi dan apa yang sebenarnya tidak disukainya. Ia harus berani untuk menunjukkan diri secara otentik terhadap lingkungannya. Jadi ia tidak lagi menunjukkan diri sebagaimana ia mengira bahwa lingkungan mengharapkan ia menunjukkan diri, melainkan sesuai dengan kediriannya yang sesungguhnya. Jadi ia berani muncul di panggung masyarakat, ia sendiri, dan bukan jiplakan harapan masyarakat yang sering sekali juga bukan harapan masyarakat, melainkan apa yang dibayangkannya bahwa di harapkan masyarakat dari padanya.

3.  KESEDIAAN UNTUK BERTANGGUNG JAWAB
 Pertama, berarti kesediaan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Karena kita terlibat pada pelaksanaanya, perasaan-perasaan seperti malas, takut tidak mempunyai tempat untuk berpijak. Kita akan melaksanakan dengan sebaik mungkin, meskipun di tuntut pengorbanan, kurang menguntungkan atau di tentang orang lain. Tugas bukan hanya sekedar masalah tetapi tugas dapat kita rasakan sebagai sesuatu yang mulia yang harus kita pelihara, kita selesaikan dengan baik
Kedua, sikap bertanggung jawab mengatasi segala etika peraturan. Orang yang bertanggung jawab seperlunya akan melanggar peraturan kalau kelihatan tidak sesuai dengan tuntunan situasi. Misalnya saja, seorang pembantu rumah tangga berhak untuk pergi sesudah jam 18.00, tetapi tetap menjaga anak tuan rumah sampai mereka pulang meskipu lewat jam 18.00
Ketiga, dengan demikian wawasan orang yang bersedia untuk bertanggung jawab secara prinsipsial tidak terbatas. Ia tidak membatasi perhatiannya pada apa yang menjadi urusan dan kewajibanya, melainkan merasa bertanggung jawab dimana saja ia di perlukan.
Keempat, kesediaan untuk bertanggung jawab termasuk kesediaan untuk diminta, dan untuk memberikan, pertanggung jawaban atas tindakan-tindakanya atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya.
Kesediaan untuk bertanggung jawab demikian adalah tanda kekuatan batin yang sudah mantap.

4. KEMANDIRIAN DAN KEBERANIAN MORAL
 Kemandirian moral berarti bahwa kita tak pernah ikut-ikutan saja dengan berbagai pandangan moral dalam lingkungan kita, melainkan selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengannya.
Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat “di beli” oleh mayoritas, bahwa kita tidak akan pernah rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar keadilan.
Sikap mandiri pada hakekatnya merupakan kemampuan untuk selalu membentuk penilaian terhadap suatu masalah moral. Kemandirian merupakan keutamaan intelektual dan kognitif. Sebagai ketekatan dalam bertindak sikap mandiri di sebut keberanian moral.
Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekat untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban, walaupun tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan.
Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang menarik. Setiap kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan malu yang sering mencekam dia. Ia merasa lebih mandiri. Ia memberikan semangat dan kekuatan berpijak bagi mereka yang lemah, yang menderita akibat kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.

5. KERENDAHAN HATI
Kerendahan hati tidak berarti bahwa kita merendahkan diri, melainkan bahwa kita melihat diri seadanya. Kerendahan hati adalah kekuatan batin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya. Ia tidak mengambil posisi berlebihan yang sulit dipertahankan kalau ditekan. Ia tidak takut bahwa kelemahannya ketahuan. Ia sendiri sudah mengetahuinya dan tidak meyembunyikannya.
Tanpa kerendahan hati keberanian moral mudah menjadi kesombongan atau kedok untuk menyembunyikan. Orang yang rendah hati sering menujukkan daya tahan yang paling besar apabila betul-betul harus diberikan perlawanan. Orang yang rendah hati tidak merasa diri penting dan karena itu berani untuk mempertaruhkan diri apabila ia sudah meyakini sikapnya sebagai tanggung jawabnya.


6. REALISTIK DAN KRITIS
Tanggung jawab moral menuntut sikap yang realistik. Apa yang menjadi kebutuhan orang dan masyarakat yang real hanya dapat di ketahui dari realitas itu sendiri.
Sikap realistik mesti berbarengan dengan sikap kritis. Tanggung jawab moral menuntut agar kita terus menerus memperbaiki apa yang ada supaya lebih adil, sesuai dengan martabat manusia, dan supaya orang-orang dapat lebih bahagia. Prinsip-prinsip moral dasar ialah norma kritis yang kita letakkan pada keadaan.
Sikap realistik tidak berarti kita menerima realitas begitu saja. Kita mempelajari keadaan dan serealis-realisnya supaya dapat kita sesuaikan dengan tuntunan prinsip-prinsip dasar.
Sikap kritis perlu juga terhadap segala macam kekuatan, kekuasaan dan wewenang dalam masyarakat. Kita tidak tunduk begitu saja, kita tidak dapat dan tidak boleh menyerahkan tanggung jawab kita kepada mereka. Begitu pula segala macam peraturan moral tradisional perlu disaring dengan kritis. Peraturan-peraturan itu pernah bertujuan untuk menjamin keadilan dan mengarahkan hidup dalam masyarakat kepada kebahagiaan. Tetapi apakah sekarang masih berfungsi demikian ataukah telah menjadi alat untuk mempertahankan keadaan yang justru tidak adil dan malahan membawa penderitaan.
Tanggung jawab moral yang nyata menuntut sikap realistik dan kritis, pedomannya ialah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu keadaan masyarakat yang membuka kemungkinan lebih besar bagi anggota-anggota untuk membangun hidup yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia.

PANDANGAN HIDUP

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

A.  PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP
            Setiap  manusia  mempunyai  pandangan  hidup.  Pandangan  hidup  itu bersifat  kodrati. Karena  itu ia menentukan masa  depan  seseorang. Untuk  itu perlu  dijelaskan  pula apa  arti pandangan hidup.  Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah  menurut  waktu  dan tempat  hidupnya.
            Dengan  demikian  pandangan  hidup  itu bukanlah  timbul  seketika  atau  dalam  waktu yang  singkat saja, melainkan  melalui  proses  waktu yang lama dan  terus menerus,  sehingga hasil  pemikiran  itu dapat  diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia  menerima  hasil pemikiran  itu sebagai pegangan,  pedoman,  arahan,  atau petunjuk yang disebut  pandangan  hidup.
            Pandangan   hidup  banyak  sekali  macamnya   dan  ragamnya,   akan  tetapi  pandangan hidup  dapat  diklasifikasikan   berdasarkan asalnya  yaitu terdiri dari  3 macam  :
( 1 )  Pandangan hidup yang berasal dari agama  yaitu  pandangan  hidup yang mutlak                      kebenarannya.
( 2 ) Pandangan  hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan                   nonna yang  terdapat  pada  negara  tersebut.
( 3 )  Pandangan  hidup  hasil  renungan  yaitu pandangan  hidup yang  relatif kebenarannya.
            Apabila pandangan hidup itu diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu  organisasi,  maka  pandangan  hidup  itu disebut  ideologi.  Jika  organisasi  itu organisasi politik,  ideologinya  disebut  ideologi  politik.  Jika organisasi  itu negara,  ideologinya  disebut ideologi  negara. Pandangan   hidup  pada  dasarnya  mempunyai   unsur-unsur  yaitu  cita-cita,  kebajikan, usaha,  keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan  yang tidak terpisahkan.  Cita – cita  ialah apa yang diinginkan  yang mungkin  dapat  dicapai  dengan usaha  atau perjuangan.  Tujuan  yang  hendak  dicapai  ialah kebajikan,  yaitu  segala  hal  yang baik yang membuat  manusia makmur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau peIjuangan  adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan.  Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan  jasmani,  dan kepercayaan  kepada  Tuhan.
B.   CITA - CITA
            Menurut   kamus  umum  Bahasa  Indonesia,  yang  disebut  cita-cita  adalah  keinginan, harapan,   tujuan  yang  selalu  ada  dalam  pikiran.  Baik  keinginan,  harapan,  maupun   tujuan merupakan   apa  yang  mau  diperoleh  seseorang  pada  masa  mendatang.   Dengan   demikian cita-cita  merupakan  pandangan  masa depan, merupakan  pandangan  hidup yang akan datang. Pada  umumnya   cita-cita  merupakan  semacam  garis  linier  yang  makin  lama  makin  tinggi, dengan  perkataan  lain:  cita-cita  merupakan  keinginan,  harapan,  dan  tujuan  manusia   yang makin  tinggi  tingkatannya.
            Apabila  cita-cita  itu tidak mungkin  atau belum mungkin  terpenuhi,  maka  cita-cita  itu disebut angan-angan.  Disini persyaratan dan kemampuan  tidak/belum  dipenuhi  sehinga  usaha untuk mewujudkan  cita-cita  itu tidak mungkin  dilakukan.  Misalnya  seorang anak bercita-cita ingin  menjadi  dokter,  ia belum  sekolah,  tidak mungkin  berpikir  baik,  sehingga  tidak  punya kemampuan   berusaha  mencapai  cita-cita.  Itu baru dalam  taraf  angan-angan.
            Antara masa sekarang   yang merupakan  realita dengan masa yang akan datang  sebagai ide atau cita-cita  terdapat jarak waktu. Dapatkah seseorang mencapai  apa yang dicita-citakan, hal itu bergantung  dari tiga faktor. 
Pertama, manusianya  yaitu yang memiliki  cita-cita;  
kedua, kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakan; dan 
ketiga, seberapa tinggikah cita-cita  yang  hendak  dicapai.
            Faktor  manusia  yang mau mencapai  cita-cita  ditentukan  oleh  kualitas  manusianya. Ada orang yag tidak berkemauan, sehingga apa yang dicita-citakan hanya merupakan  khayalan saja. Hal demikian banyak menimpa anak-anak muda yang memang senang berkhayal, tetapi sulit mencapai apa yang dicita-citakan karena kurang mengukur dengan kemampuannya sendiri. Sebaliknya dengan anak  yang  dengan  kemauan  keras  ingin  mencapai apa yang  di cita-citakan, cita-cita merupakan motivasi  atau  dorongan dalam menempuh hidup untuk mencapainya. Kerja keras dalam mencapai cita-cita merupakan  suatu perjuangan  hidup yang bila berhasil  akan  menjadikan dirinya puas.
            Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita. Sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi  yang  merintangi  tercapainya  suatu cita-cita,  Misalnya  sebagai  bcrikut  :
Hanif dan Syauqi adalah dua anak pandai dalam satu kelas, keduanya bercita-cita menjadi sarjana. Amir  anak orang  yang cukup kaya, sehingga dalam mencapai cita-citanya tidak mengalami hambatan. Malahan dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi orang tuanya merupakan faktor yang menguntungkan  atau memudahkan  mencapai cita-cita si Amir. Sebaliknya dengan Budi yang orang tuanya ekonominya  lemah, menyebabkan ia tidak mampu mencapai cita-citanya. Ekonomi orang tua Budi yang lemah merupakan  hambatan bagi  Budi dalam  mencapai  cita-citanya.
c. KEBAJIKAN
            Kebajikan  atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan  kebaikan pada hakekatnya sarna dengan perbuatan  moral, perbuatan  yang sesuai dengan norma-norma   agama dan etika. Manusia  berbuat  baik, karena menurut  kodratnya  manusia  itu baik, mahluk  bermoral. Atas  dorongan  suara hatinya  manusia  cenderung  berbuat  baik.
            Manusia adalah seorang  pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur  itu terpisah  bila manusia  meninggal.  Karena merupakan  pribadi,  manusia  mempunyai pendapat  sendiri,  ia mencintai  diri sendiri, perasaan  sendiri, cita-cita  sendiri dan sebagainya. Justru  karena  itu, karena  mementingkan diri sendiri, seringkali manusia  tidak mengenal kebajikan.
            Manusia merupakan mahluk sosial: manusia hidup bermasyarakat,manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota  masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan,dan sebagainya.
Manusia sebagai mahluk Tuhan, diciptakan Tuhan dan dapat berekembang karena Tuhan. Untuk itu manusia  dilengkapi  kemampuan  jasmani  dan  rohani juga  fasilitas  alam sekitarnya  seperti  tanah,  air, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
            Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu manusia sebagai  mahluk  pribadi, manusia  sebagai  anggota masyarakat,dan manusia sebagai  mahluk Tuhan.
Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam  bisikan  di dalam  hati  yang  mendesak   seseorang untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku. Jadi suara hati dapat merupakan  hakim untuk diri sendiri.  Sebab  itu, nilai  suara  hati amat besar  dan penting  dalam  hidup  manusia.  Misalnya orang  tahu, bahwa  membunuh  itu buruk, jahat:  suara hatinya  mengatakan  demikian,  namun manusia  kadang-kadang   tak mendengarkan   suara hatinya.
Suara hati selalu memilih  yang baik, sebab itu ia selalu mendesak  orang untuk berbuat yang  baik  bagi  dirinya.  Oleh  karena  itu, kalau  seseoraang  berbuat  sesuatu  sesuai  dengan bisikan suara hatinya, maka orang tersebut perbuatannya pasti baik. Jadi berbuat atau bertindak menurut  suara hati, maka tindakan  atau perbuatan  itu adalah baik. Sebaliknya  perbuatan  atau tindakan berlawanan  dengan suara hati kita, maka perbuatan atau tindakan itu buruk. Misalnya, suara hati kita mengatakan “tolonglah orang yang menderita itu”, dan kita berbuat menolongnya, maka  kita membuat  kebajikan.  Sebaliknya,  apabila hati kita berkata demikian,namun kita hanya  seolah-olah  tak mendengarkan  suara hati itu, maka  munafiklah  kita.
            Karena merupakan anggota masyarakat, maka seseorang juga terikat dengan  suara masyarakat.    Setiap masyarakat adalah kumpulan pribadi-pribadi, sehingga setiap suara masyarakat pada hakekatnya  adalah kumpulan suara hati pribadi-pribadi  dalam masyarakat itu. Sebagaimana suara hati tiap  pribadi  itu pasti selalu menginginkan yang baik,maka masyarakat yang terdiri atas pribadi-pribadi  itu pun pasti  suara hatinya juga menginginkan yang baik, maka masyarakat yang terdiri atas pribadi-pribadi pasti  suara hatinya juga menginginkan yang baik untuk kehidupan masyarakatnya. Sebab itu jika benar-benar berdasarkan  pada suara hati anggota-anggotanya. Suara hati masyarakat pada dasarnya adalah baik.   Misalnya, warga disuatu  daerah menghendaki kerja bakti dengan mengadakan pembersihan saluran  air di kampung. Bila kita ikut beramai-ramai kerja  bakti, berarti  kita mengikuti suara  hati masyarakat,  kerja bakti itu. Tetapi bila kita tidak mengikutinya berarti kita tidak mau mengikuti suara hati masyarakat.
            Sesuatu  yang  baik bagi masyarakat, berarti baik bagi kepentingan masyarakat. Tetapi dapat  saja terjadi, bahwa sesuatu yang baik bagi kepentingan umum/masyarakat tidak baik bagi salah seorang   atau segelintir orang didalamnya atau sebaliknya. Dengan demikian, seseorang harus tunduk kepada  apa yang  baik bagi masyarakat umum.
Contoh : Hanif tidak setuju jalan di depan rumahnya diperlebar, karena harus memotong bagian depan rumahnya. Tetapi masyarakat kampung mengusulkan  dan telah disetujui jalan itu harus diperlcbar  demi keamanan. Akhimya karena desakan seluruh warga, dengan sangat terpaksa Hanif  menyetujuinya.
            Jadi baik  atau buruk itu dilihat menurut suara hati sendiri. Meskipun demikian  harus dinilai dan diukur menurut suara atau pendapat umum. Disini tidak berarti bahwa pendapat umum atau kepentingan umum itu di atas segala-galanya, sehingga suara hati, pendapat  atau kepentingan  pribadi-pribadi  diperkosa begitu saja.
Sebagai mahluk Tuhan,  manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu  membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi,untuk mengukur perbuatan baik buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau kehendak Tuhan. Kehendak  Tuhan  berbentuk  hukum  Tuhan  atau hukum  agama.
            Jadi kebajikan itu adalah perbuatan  yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan  hukum Tuhan. Kebajikan  berarti  berkata  sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi  yang  melihatnya.
            Baik-buruk,  kebajikan  dan ketidakbijakan  menimbulkan daya kreatifitas  bagi seniman. Banyak  hasil  seni lahir  dari imajinasi kebajikan dan ketidakbajikan.
            Namun ada pula kebajikan semua, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik, yang bermaksud meneari keuntungan   diri  sendiri.
Kebajikan  manusia  nyata dan dapat dirasakan  dalarn tingkah  lakunya.  Karena  tingkah laku bersurnber pada pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendin-sendiri, sehingga  tingkah  laku setiap  orang  berbeda-beda.
Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal. Pertama faktor pembawaan    (heriditas)  yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan. Pembawaan merupakan  hal yang diturunkan  atau dipusakai  oleh orang  tua. Tetapi  mengapa mereka  yang saudara sekandung  tidak memiliki pembawaan  yang sarna?  Hal itu disebabkan, karena  sel-sel benih  yang mengandung  faktor-faktor  penentu  (determinan)  berjumlah  sangat
banyak: pada saat  konsepsi  saling berkombinasi dengan cara bermacam-macam sehingga menghasilkan   anak  yang  bermacam-macam juga (prinsip  variasi  dalam  keturunan). Namun mereka yang  bersaudara  memperlihatkan kecondongan  kearah  rata-rata,  yaitu  sifat  rata-rata yang dimiliki oleh mereka yang saudara sekandung  (prinsip regresi filial). Pada masa konsepsi atau  pembuahan   itulah  terjadi  pembentukan  temperamen  seseorang.
Faktor  kedua  yang  menentukan tingkah laku seseorang  adalah  Iingkungan (environ­ ment).  Lingkungan   yang  membentuk  seseorang  merupakan   alam  kedua    yang  terjadinya setelah  seorang  anak  lahir  (masa  pembentukan seseorang  waktu  masih  dalam  kandungan merupakan   alam  pertama  ). Lingkungan membentuk  jiwa seseorang   meliputi  lingkungan keluarga,  sekolah, dan masyarakat.  Dalarn lingkungan  keluarga orang tua maupun  anak -anak yang  lebih  tua merupupakan   panutan  seseorang,  sehingga  bila yang dianut sebagai teladan berbuat yang balk-balk,  maka si anak yang tengah membentuk  diri pribadinya  akan baikjuga. Dalarn   lingkungan    sekolah   yang  menjadi   panutan   utama adalah guru, sementara  itu ternan-ternan sekolah ikut serta memberikan andilnya. Dalam lingkungan sekolah tokoh panutan seorang  anak  sudah  memiliki  posisi  yang  lebih luas dibandingkan   dengan  dalarn  keluarga. Pembentukan    pri bad i  dalarn   sekolah   terjadi  pada  masa  anak-anak   at au  masa   sekolah. Lingkungan  ketiga  adalah  masyarakat,  yang menjadi  panutan   bagi  seseorang  adalah  tokoh masyarakat  dengan  masa setelah anak-anak  menjadi dewasa  atau duduk  di perguruan  tinggi. Selain  tokoh-tokoh  dalarn  rumah  tangga,  sekolah  dan  masyarakat  yang merupakan   person, kepribadian seorang anak juga  memperoleh pengaruh  dari benda-benda atau peralatan  dalarn lingkungaan  tersebut yang merupakan  non person. Karena itu dalarn pembentukan  kepribadian pada  umumnya  anak-anak  kota  lebih trampil  dibandingkan dengan anak  pedesaan, namun dalam  hubungan  bermasyarakat  lebih-lebih  yang berjenjang  anak-anak  dari daerah  pedesaan lebih  unggul. Faktor ketiga yang menentukan  tingkah laku seseorang  adalah pen gala man  yang khas yang  pemah  diperoleh.  Baik  pengalaman  pahit yang  sifatnya  negatif,  maupun  pengalarnan manis  yang sifatnya positif. Memberikan pada manusia suatu bekal yang selalu dipergunakan sebagai pertimbangan sebelum   seseorang mengarnbil tindakan. Mungkin sekali  bahwa berdasarkan hati  nurani seseorang mau  menolong   orang  dalarn  kesusahan, tetapi  karena pemah  memperoleh   pengalarnan  pahit  waktu  mau  menolong seseorang sebelumnya, maka niat baiknya itu tertahan, sehingga diurungkan untuk membantu. Belajar hidup dari pengalarnan inilah  yang  merupakan  pembentukan   budaya  dalarn diri seseorang.
            Dalarn prakteknya, dari ketiga faktor diatas. yaitu hereditas, lingkungan, dan pengalarnan. manakah  yang paling  dominan? Sulit diberikan jawaban,  karena  ketiga-tiganya  terjalin  erat sekali.  Disarnping   itu ketiga  faktor tersebut dalam membentuk pribadi seseorang  berbeda kekuatannya dengan  pembentukan  pada  pribadi  lain.
 D.   USAHA / PERJUANGAN
            Usaha/perjuangan  adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia hams kerja  keras  untuk  kelanjutan  hidupnya, Sebagian hidup manusia adalah  usaha/perjuangan. Perjuangan   untuk  hidup,  dan  ini sudah  kodrat  manusia.  Tanpa  usaha/perjuangan,   manusia tidak dapat hidup sempuma.  Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia harus  kerja keras. Apabila seseorang bercita-cita menjadi ilmuwan, ia harus rajin belajar dan tekun serta memenuhi semua  ketentuan  akademik.
            Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenaga/jasmani,  atau dengan kedua-duanya.  Para ilmuwan lebih banyak bekerja keras dengan otak/ilmunya  daripada dengan  jasmaninya.   Sebaliknya   pam  buruh,  petani  lebih  banyak  menggunakan   jasamani daripada  otaknya.  Para tukang dan pam ahli lebih banyak menggunakan  kedua-duanya   otak dan jasmani  daripada  salah satunya.  Para politisi lebih banyak  kerja  otak daripada  jasmani. Sebaliknya  para prajurit  lebih ban yak kerja jasmani  daripada  otak.
            Kerja keras pada dasamya  menghargai dan meningkatkan  harkat dan martabat manusia. Sebaliknya  pemalas  membuat  manusia  itu miskin,  melarat,  dan berarti  menjatuhkan  harkat dan martabatnya  sendiri. Karma  itu tidak boleh bermalas-malas,  bersantai-santai  dalam hidup ini. Santai  dan  istirahat  ada waktunya  dan manusia  mengatur  waktunya  itu.
            Dalam agama pun  diperintahkan  untuk kerja keras. Sebagaimana  hadist yang diucapkan Nabi Besar  Muhammad  S.A.W.  yang ditujukan  kepada para pengikutnya:”Bekerjalah    kamu seakan-akan  kamu  hidup  selama-lamanya.   dan beribadahlah  kamu  seakan-akan  kamu  akan mati besok. Allah berfirman  dalarn Al-Qur’an  surat Ar-Ra’du  ayat  II  : “sesungguhnya   Allah tidak  mengubah   keadaan  suatu  kaum,  kecuali jika  mereka  mengubah  keadaan  diri  mereka sendiri”.  Dari haidst dan firman ini dapat dinyatakan  bahwa manusia  perlu kerja keras untuk mempenbaiki   nasibnya  sendiri.
            Untuk  bekerja  keras manusia  dibatasi oleh kemampuan.  Karena  kemampuan   terbatas itulah timbul perbedaan tingkat kernakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya. Kemampuan   itu  terbatas  pada  fisik dan  keahlian/ketrampilan.   Orang  bekerja  dengan  fisik lemah memperoleh  hasil sedikit, ketrampilan  akan memperoleh  penghasilan  lebih banyak jika dibandingkan  dengan orang yang tidak mempunyai  ketrampilan/keahlian. Karena itu mencari ilmu dan keahlian/ketrampilan   itu suatu keharusan.  Sebagaimana  dinyatakan dalam ungkapan sastra: “tuntutlah  ilmu dari buaian sampai ke liang lahat” dalam pendidikan  dikatakan sebagai “long  life education”
            Karena  manusia  itu  mempunyai   rasa  kebersamaan   dan  belas  kasihan  (cinta  kasih) antara sesama manusia. maka ketidakmampuan atau kemampuan  terbatas yang menimbulkan perbedaan   tingkat  kemakmuran   itu  dapat  diatasi  bersama-sama   secara  tolong  menolong, bergotong-royong.    Apabila  sistem ini diangkat  ke tingkat organisasi negara,maka negara akan  mengatur  usaha/peljuangan   warga  negaranya   sedemikian   rupa,  sehingga   perbedaan tingkat kemakmuran  antara sesama warga negara dapat dihilangkan atau tidak terlalu mencolok. Keadaan  ini dapat  dikaji  melalui  pendangan  hidup/ideologi  yang  dianut  oleh  suatu  negara.
E.   KEYAKINAN / KEPERCAYAAN
            Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuaasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada tiga aliran filsafat,yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.
(a)  Aliran  Naturalisme
            Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Tetapi bagi yang tidak percaya pada Tuhan, natur itulah yang tertinggi. Tuhan menciptakan alarn semesta lengkap dengan hukum-hukumnya. secara mutlak dikuasai Tuhan. Manusia sebagai mahluk tidak mampu menguasai alarn ini, karena manusia itu lemah. Manusia hanya dapat berusaha/berencana tetapi Tuhan yang menentukan .
            Aliran naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada Tuhan. Lalu mana yang benar ? Yang benar adalah keyakinan. Jika kita yakin Tuhan itu ada, maka kita katakan Tuhan ada. Bagi yang tidak yakin, dikatakan Tuhan tidak ada yang ada hanya natur.
            Bagi yang percaya Tuhan, Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan. Karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran-ajaranTuhan yaitu agarna. Ajaran agarna itu ada dua macarn yaitu :
1. Ajaran agarna dogmatis, yang disarnpaikanoleh Tuhan melalui nabi-nabi. Ajaran agarna yang dogmatis bersifat mutlak (absolut),terdapat dalam kitab suci Al-Quran dan Hadist. Sifatnya tetap, tidak berubah-ubah.
2.Ajaran agarna dari pemuka-pemukaagarna,yaitu sebagaihasil pemikiranmanusia, sifatnya relatif(terbatas).Ajaranagarnadari pemuka-pemukaagarnatermasukkebudayaan,terdapat dalarn buku-buku agarna yang ditulis oleh pemuka-pemuka agarna. Sifatnya dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembanganjarnan.
            Apabila  aliran naturalisme  ini dihubungkan  dengan pandangan  hidup, maka keyakinan manusia  itu bennula  dan  Tuhan.Jadi, pandangan  hidup  dilandasi  oleh  ajaran-ajaran  Tuhan melalui   agamanya Manusia yakin  bahwa  kebajikan  itu  diridhoi oleh  Tuhan. pandangan hidup  yang  dilandasi  keyakinan   bahwa  Tuhanlah  kekuasaan   tertinggi,   yang  menentukan segala-galanya   disebut  pandangan  hidup  religius  (keagamaan).
            Sebaliknya, apabila  manusia  tidak  mengakui  adanya  Tuhan,  natur  adalah  kekuatan tertinggi,  maka  keyakinan  itu bermula  dan  kekuatan  natur.  Pandangan  hidupnya  dilandasi oleh  kekuatan  natur.  Manusia  yakin  bahwa  kebajikan  adalah  kebajikan  natur.  Pandangan hidup  yang  dilandasi  oleh  kekuatan  natur  sifatnya  atheisme.  Ini disebut  pandangan   hidup komunis.
(b)  Aliran  intelektualisme
            Dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan  akal. Dengan akal manusia berpikir.  Mana  yang  benar  menu rut akal  itulah  yang  baik,  walaupun  bertentangan   dengan kekuatan  hati nurani.  Manusia  yakin bahwa dengan kekuatan  pikir (akal) kebajikan  itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi.  Teknologi adalah a1at bantu mencapai kebajikan  yang  maksimal,  walaupun  mungkin  teknologi  memberi  akibat  yang  bertentangan dengan  hati nurani.
            Akal berasal  dan  bahasa  Arab,  artinya kalbu,  yang berpusat  di hati,  sehingga  timbul istilah “hati nurani”,  artinya daya rasa  Di Barat hati nurani ini menipis, justru  yang menonjol adalah  akal yaitu logika  berpikir,  Karena  itu aliran ini banyak  dianut  di kalangan  Barat  di Timur  orang  mengutamakan   hati nurani,yang  baik menurut  akal belurn  tentu  baik  menurut hati nurani.
            Apabila  aliran ini dihubungkan  dengan pandangan  hidup, maka keyakinan  manusia  ito bennula  dan akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran  yang diterima akal.  Benar  menurut  akal itulah  yang  baik. Manusia  yakin  bahwa  kebajikan  hanya  dapat diperoleh  dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini disebut llberalisme.Kebebasan akal  menimbulkan    kebebasan   bertingkah   laku  dan  berbuat, walaupun   tingkah   laku  dan perbuatan  itu bertentangan  dengan hati nurani. Kebebasan  akallebih ditekankan  pada setiap individu. karena  itu individu yang berakal (berilmu dan berteknologi  tinggi) dapat menguasai individu  yang  berpikir  rendah  (bodoh).
(c)  Aliran  Gabungan
Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib aninya  kelruatan yang berasal  dan  Tuhan,  percaya  adanya Tuhan  sebagai dasar keyakinan.  Sedangkan  aka! adalah dasar kebudayaan,   yang menentukan  benar  tidaknya  sesuato.  Segala  sesuatu  dinilai  dengan akal,  baik sebagai  logika  berpikir  maupun  sebagai  rasa (hati nurani).  Jadi,  apa yang benac menurut  logika  berpikir juga  dapat diterima  oleh hati nurani.
            Apabila aliran ini dihubungkan  dengan pandangan hidup, maka akan timbul dua kemungkinan  pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarlcan pada logika berpildr, sedangkan  hati nurani  dinomor  duakan,  kekuatan  gaib dari Tuhan  diakui  adanya  tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan  pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat),  pandangan hidup ini disebut sosialisme.
            Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-duanya mendasari keyakinan secara berimbang, akal dalam arti baik sebagai logika berpikir maupun sebagai daya rasa (hati nurani), logika berpikir baik secara individual maupun secara kolektif pandangan hidup ini disebut sosialime – religius. Kebajikan yang dikehendaki  adalah kebajikan menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.
            Apabila kita kaji maka antara dua pandangan hidup ini terdapat perbedaan pokok. Pandangan  hidup sosialisme menekankan pada logika berpikir kolektif, sedangkan  pandangan hidup sosialisme religius menenkankan pada logika berpikir kolektif individual.Pandangan hidup sosialisme mengutamakan  logika berpikir dari pada hati nurani, sedangkan sosialisme religius mengutamakan kedua-duanya logika berpikir dan hati nurani. Pandangan hidup sosialisme tidak begitu menghiraukan kekuasaan Tuhan, sebaliknya sosialisme religius kekuasaan Tuhan begitu menentukan.
F.   LANGKAH-LANGKAH  BERPANDANGAN HIDUP YANG BAlK
            Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita memeperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukaan sebagai penimbul kesejahteraan,  ketentraman dan sebagainya.
            Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya rnernpunyai langkah-langkah  berpandangan hidup ini. Karena hanya dengan rnernpunyai langkah-langkah  itulah kita dapat memperlakukan pandangan  hidup  sebagai  sarana mcncapai tujuan dan  cita-cita dengan  baik.  Adapun langkah-langkah itu sebagai berikut :
(1)   Mengenal
            Mengenal merupakan suatu kodrat bagi rnanusia yaitu rnerupakan  tahap pertarna dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam jal ini rnengenal apa itu pandangan  hidup. Tentunya kita yakin dan sadar bahwa sctiap manusia itu pasti rnernpunyai pandangan hidup, maka kita dapat memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak rnanusia itu ada, dan bahkan hidup itu ada sebelum manusia itu bel urn turun ke dunia. Adam dan hawalah dalam hal ini yang merupakan manusia pertama, dan berarti pula mereka rnernpunyai  pandangan hidup yang digunakan sebagai pedoman dan yang rnernberi petunjuk kepada mereka.
            Sedangkan kita sebagai mahluk yang bernegara dan atau beragama pasti mempunyai pandangan hidup juga dalam beragama, khususnya  Islam, kita rnernpunyai  pandangan hidup yaitu AI-Qur’an, Hadist dan ijmak Ulama, yang rnerupakan satu kesatuan dan lidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lainnya.
 (2)  Mengerti
            Tahap kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti disini dimaksudkan   mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bernegara kita berpandangan  pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya mengerti apa  Pancasila  dan  bagaimana  mengatur  kehidupan bernegara.  Begitu  juga  bagai yang  berpandangan hidup pada agama Islam.  Hendaknya  kita mengerti apa itu Al-Qur’an, Hadist dan ijmak itu dan bagaimana  ketiganya  itu mengatur kehidupan  baik di dunia maupun di akherat Selain itu juga kita mengerti untuk apa dan dari mana Al Qur’an, hadist, dan ijmak itu. Sehingga dengan demikian  mempunyai  suatu konsep pengertian tentang pandangan  hidup dalam  Agama  Islam.
Mengerti  terhadap pandangan  hidup di sini memegang  peranan penting. Karena dengan mengerti,  ada kecenderungan   mengikuti  apa yang terdapat  dalam  pandangan  hidup  itu.
(3)  Menghayati
            Langkah  selanjutnya  setelah mengerti pandangan  hidup adalah menghayati  pandangan hidup  itu. Dengan  menghayati  pandangan  hidup kita memperoleh  gambaran  yang  tepat dan benar  mengenai  kebenaran pandangan  hdiup  itu sendiri.
            Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalanmya, yaitu  dengan  memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai  pandangan  hidup itu sendiri. Langkah-langkah   yang  dapat  ditempuh  dalam  rangka  menghayati  ini, menganalisa hal-hal  yang  berhubungan  dengan  pandangan  hidup,  bertanya  kepada  orang  yang  dianggap lebih tabu dan lebih berpengalaman mengenai isi pandangan hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu  sendiri. Jadi dengan menghayati  pandangan hid up kita akan memperoleh  mengenai kebenaran  tentang  pandangan  hidup  itu sendiri.
            Yang  perIu  diingat  dalam  langkah  mengerti  dan  menghayati  pandangan   hidup  itu, yaitu  harus  ada.  Sikap  penerimaan  terhadap pandangan hidup itu sendiri. Dalam sikap penerimaan   pandangan  hidup  ini  ada  dua  altematif  yaitu  penerimaan   secara   ikhlas  dan penerimaaan  secara  tidak  ikhlas.
            Dengan kata lain langkah mengenai mengerti dan menghayati  ini ada sikap penerimaan dan hal lain merupakan  langkah  yang menentukan  terhadap langkah  selanjutnya.  Bila dalarn mengerti  dan menghayati ini ada penerimaan secara ikhlas,maka langkah selanjutnya akan memperkuat  keyakinannya.  Akan  tetapi bila sebaliknya  langkah  selanjutnya  tidak  berguna.
(4)  Meyakini
            Setelah mengetahui  kebenaran dan validitas, baik secara kemanusiaan,  maupun  ditinjau dan  segi  kemasyarakatan  maupun  negara  dan dari  kehidupan  di akherat,  maka  hendaknya kita meyakini  pandangan  hidup  yang telah kita hayati itu. Meyakini  ini merupakan  suatu hal untuk cenderung  memperoleh  suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan hidupnya.
            Dengan  meyakini   berarti   secara  langsung   ada  penerimaan yang  ikhlas   terhadap pandangan   hidup  itu.  Adanya  sikap  menerima  secara  ikhlas  ini maka  ada  kecenderungan untuk selalu berpedoman kepadanya dalam segala tingkah laku dan tindak tanduknya selalu dipengaruhi oleh pandangan hidup yang diyakininya. Dalam meyakini ini   penting juga adanya iman yang teguh. Sebab dengan iman yang teguh ini dia tak akan terpengaruh oleh pengaruh dari luar dirinya yang menyebabkan  dirinya tersugesti.
Contoh bahwa keyakinan itu penting dalam tingkah laku. Kita sebagai umat yang beragama Islam yakin bahwa Allah itu mempunyai sifat yang malla dari segala yang diantaranya adalah maha mengetahui. Sifat maha mengetahui ini membuat orang yang meyakininya selalu berbuat baik,  Dalam hal ini adalah keyakinan yang sebenar-benamya. Akan tetapi dalam kasus tertentu ada pula orang yang walaupun meyakini, tetapi karena imannya tipis maka terpaksa melanggar ketentuannya.
(5.)    Mengabdi
            Pengabdian merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya Sedangkan perwujudan manfaat mengabdi ini dapat dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu sendiri bisa terwujud di masa masih hidup dan atau sesudah meninggal yaitu di alam akherat.
            Dampak berpandangan  hidup Islam yang antara lain yaitu mengabdi kepada orang tua (kedua orang tua). Dalam mengabdi kepada orang tua bila didasari oelh pandangan hidup Islam maka akan cenderung untuk selalu disertai dengan ketaatan dalam mengikuti segala perintahnya.  Setidak-tidaknya  kita menyadari bahwa kita sudah selayaknya mengabdi kepada orang tua. Karena kita dahulu yaitu dari bayi sampai dapat berdiri sendiri tokh diasuhnya dan juga kita dididik kepada hal yang baik.
            Oleh karena itu seharusnya mengabdi kepada orang tua kita  dengan perwujudannya yang berupa perbuatan yang menyenangkan hatinya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Artinya apapun yang menjadi hambatan dan tantangan kita untuk tidak mengabdi kepadanya harus selalu ditumbangkan.
            Jadi jika kita sudah mengenal, mengerti, menghayati,  dan meyakini pandangan hidup ini, maka selayaknya disertai dengan pengabdian.  Dan pengabdian ini hendaknya dijadikan pakaian, baik dalam waktu  tentram Iebih-lebih  bila menghadapi hambatan, tantangan dan sebagainya.
(6) Mengamankan
            Mungkin sudah merupakan sifat manusia bahwa bila sudah mengabdikan diri pada suatu pandangan hidup lalu ada orang lain yang mengganggu  dan atau mayalahkannya  tentu dia tidak menerima dan bahkan cenderung untuk mengadakan perlawanan. Hal ini karena kemungkinan  merasakan  bahwa  dalam berpandangan hidup  itu dia  telah  mengikuti langkah-langkah sebelumnya dan langkah-langkah  yang ditempuhnya itu telah dibuktikan kebenarannya sehingga akibatnya bila ada orang lain yang mengganggunya rnaka dia pasti akan mengadakan suatu respon entah respon itu berwujud tindakan atau lainnya.
            Proses  mengamankan ini merupakan langkah terakhir.Tidak mungkin atau sedikit kemungkinan  bila belum mendalami  langkah sebelumnya  lalu akan ada proses mengamankan ini. Langkah yang  terakhir  ini merupakan  langkah  terberat dan benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup  itu.
            Misalnya seorang yang beragama Islam dan berpegang teguh kepada  pandangan hidupnya, lalu suatu  ketika  dia dicela baik secara langsung  ataupun  secara  tidak  langsung, maka jelas  dia  tidak  menerima  celaan  itu. Bahkan  bila ada orang  yang  ingin  merusak  atau bahkan  ingin  memusnahkan   agama  Islam baik terang-terangan   ataupun   secara  diam-diam, sudah  tentu  dan  sudah  selayaknya  kita mengadakan  tindakan  terhadap  segala  sesuatu  yang menjadi  pengganggu.